Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla, Dokter Ungkap Gejalanya

Djanti Virantika , Jurnalis-Jum'at, 28 Agustus 2026 |20:05 WIB
Ini Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla, Dokter Ungkap Gejalanya
Kebakaran hutan sebabkan batuk hingga ISPA. (Foto: Freepik)
A
A
A

PAPARAN asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai, apalagi kini tengah terjadi kebakaran hutan di Kalimantan juga Sumatera. Pasalnya, asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan pada saluran pernapasan, salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah batuk.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa batuk akibat paparan asap karhutla tidak selalu sama dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Apa saja gejalanya?

5 Penyakit Imbas Kabut Asap Karhutla

1. Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla

Dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISR, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa istilah ISPA pada dasarnya berkaitan dengan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus maupun bakteri. Meski demikian, paparan asap karhutla dapat menimbulkan gejala yang menyerupai ISPA, seperti batuk, berdahak, hingga hidung meler.

"Kalau untuk infeksi kan harus ada virusnya, ada bakterinya. Tapi di sini, ISPA yang disebabkan oleh karhutla tidak disebabkan oleh virus. Tidak ada virusnya," ujar dr. Itna.

"Gejala yang ditimbulkannya batuk, dahak, hidung meler. Gejalanya menyerupai ISPA walaupun dia tidak berhubungan virus atau bakteri," lanjutnya.

2. Paparan Asap Bisa Melemahkan Daya Tahan Paru

Paparan zat berbahaya dari asap karhutla yang berlangsung terus-menerus juga perlu diwaspadai. Menurut dr. Itna, kondisi tersebut dapat mengganggu sistem pertahanan tubuh dan membuat paru-paru lebih rentan.

Jika imunitas dan daya tahan paru menurun, virus maupun bakteri yang masuk ke tubuh dapat lebih mudah menyebabkan infeksi. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menganggap remeh batuk yang muncul setelah terpapar asap karhutla, terutama jika keluhan berlangsung cukup lama atau disertai gejala lain.

"Kalau kondisi memang terus berlanjut, paparan zat berbahaya itu akan merusak imunitas dan daya tahan parunya. Sehingga nanti ditumpangi lagi dengan virus yang lewat, oleh bakteri yang datang. Paru kita sudah lemah jadi akan mudah untuk terinfeksi," jelas dr. Itna.

 

3. Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Batuk Pakai Masker

dr. Itna mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila batuk berlangsung lebih dari dua minggu atau tidak menunjukkan perbaikan. Masyarakat juga perlu waspada jika sebelum dua minggu sudah muncul gejala yang lebih berat, seperti sesak atau kesulitan bernapas serta tubuh lebih mudah lelah.

"Kenapa terasa sesak bernapas, kenapa lebih mudah lelah. Hati-hati, itu alarm tubuh memberitahukan kita kalau kita sedang tidak bagus kondisi oksigen di tubuh kita," kata dr. Itna.

Selain itu, orang yang sudah memiliki penyakit penyerta, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), juga disarankan lebih cepat berkonsultasi dengan tenaga medis ketika mengalami keluhan pernapasan setelah terpapar asap.

Dengan demikian, batuk akibat paparan asap karhutla sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan sepele. Mengenali tanda bahaya dan mendapatkan pemeriksaan sejak dini dapat membantu mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement