
Konsistensi tetap menjadi bagian penting dalam perubahan pola makan. Sebaliknya, jika kembali mengonsumsi makanan tinggi garam setelah sebelumnya menguranginya, tekanan darah juga dapat kembali meningkat.
Respons tubuh terhadap pengurangan garam juga tidak sama pada setiap orang. Beberapa faktor dapat memengaruhi seberapa cepat tekanan darah berubah.
Salah satunya adalah jumlah garam yang dikurangi. Biasanya, semakin banyak asupan garam yang berhasil dikurangi, semakin besar pula potensi penurunan tekanan darah.
Namun, pengurangan yang lebih kecil dapat membutuhkan waktu hingga sekitar empat minggu untuk memberikan perubahan yang signifikan. Kondisi tekanan darah sebelum mengurangi garam juga berpengaruh.
Orang dengan tekanan darah awal yang lebih tinggi dapat mengalami penurunan yang lebih besar setelah mengurangi asupan garam. Selain itu, ada orang yang lebih sensitif terhadap garam.
Kelompok yang cenderung lebih sensitif terhadap efek garam antara lain orang lanjut usia dan mereka yang memiliki kondisi tertentu seperti penyakit ginjal kronis, diabetes, atau resistensi insulin.
Adapun alasan garam berpengaruh pada tekanan darah karena asupan natrium yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak air. Kondisi tersebut meningkatkan jumlah cairan yang harus dipompa oleh jantung sehingga dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
Pola makan tinggi natrium juga dapat memengaruhi fungsi ginjal dan pembuluh darah. Karena itu, mengurangi konsumsi garam bukan hanya berkaitan dengan angka tekanan darah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.