JAKARTA – Songkok menjadi salah satu bagian dari busana yang melekat dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan upacara di Indonesia. Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, keberadaan songkok yang dikenakan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) kembali menarik perhatian, bukan hanya dari sisi penampilan, tetapi juga nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Sebagai bagian dari busana resmi, songkok tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap pakaian. Bentuknya merepresentasikan nilai kehormatan, kedisiplinan, dan identitas budaya yang telah berkembang dari generasi ke generasi.
Jejak Panjang Songkok dalam Budaya Indonesia
Sejarah songkok di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat dan kebudayaan di berbagai daerah. Bentuk penutup kepala yang kemudian dikenal dengan berbagai nama, seperti songkok, peci, atau kopiah, berkembang dalam lingkungan sosial dan budaya yang berbeda-beda.
Kajian yang diterbitkan melalui jurnal Naditira Widya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa penggunaan peci atau songkok dalam kebudayaan Makassar antara lain mendapat pengaruh dari kebudayaan luar, termasuk Turki, Jazirah Arab, dan India. Namun, dalam perkembangannya, penutup kepala tersebut mengalami proses adaptasi dan memperoleh makna tersendiri dalam kebudayaan masyarakat Indonesia.
Di sejumlah daerah, songkok bahkan berkembang menjadi bagian penting dari identitas lokal. Salah satunya adalah Songko To Bone atau Songko Recca dari Sulawesi Selatan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 264/M/2018. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, songko recca dibuat dari serat pelepah daun lontar dan memiliki sejarah panjang dalam lingkungan Kerajaan Bone. Pada masa pemerintahan Raja Bone Lamappanyukki pada 1931, songko recca mendapat perhatian besar dan menjadi semacam kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para punggawa kerajaan.
Perkembangan songkok juga terlihat dalam tradisi masyarakat Bangka Belitung. Kajian mengenai songkok resam yang terdokumentasi dalam basis data penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut songkok sebagai istilah lokal untuk peci atau kopiah. Songkok resam menjadi bagian dari pelengkap pakaian adat Melayu Bangka Belitung dan digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk upacara adat.
Sementara itu, dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim dan lingkungan pesantren, songkok juga berkembang menjadi salah satu penanda identitas. Kajian dalam Jurnal Masyarakat Indonesia yang diterbitkan BRIN menyebut songkok sebagai peci nasional berwarna hitam yang menjadi bagian dari pakaian santri dalam kegiatan belajar dan ritual keagamaan.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa songkok di Indonesia bukan sekadar benda pelengkap pakaian. Bentuk dan penggunaannya berkembang mengikuti konteks sosial masing-masing daerah, sekaligus menjadi bagian dari pertemuan antara tradisi lokal, agama, dan perkembangan identitas kebangsaan.
Dalam perkembangannya pada abad ke-20, peci atau kopiah hitam semakin populer sebagai atribut busana masyarakat Indonesia. Kajian BRIN mencatat bahwa peci mulai populer pada awal abad ke-20, kemudian berkembang sebagai atribut busana resmi di kalangan pemerintahan dan busana keseharian masyarakat hingga pertengahan abad ke-20. Secara sosial, peci kemudian identik dengan bangsa Indonesia dan juga kerap dikaitkan dengan kesederhanaan serta simbol kepemimpinan nasionalis dan agamais.
Karena itu, keberadaan songkok dalam prosesi kenegaraan memiliki konteks budaya yang lebih luas. Ia berada di antara warisan tradisi, identitas masyarakat, dan simbol kebangsaan yang terus mengalami perkembangan.
Kualitas untuk Busana Kenegaraan
Sejak 2019, Songkok BHS dan Atlas Edisi Paskibraka dipercaya menjadi pilihan resmi Paskibraka di Istana Negara. Kepercayaan tersebut telah berlangsung selama tujuh tahun berturut-turut dan menempatkan kualitas, kenyamanan, serta ketepatan detail sebagai bagian penting dalam menunjang penampilan pada salah satu momen kenegaraan paling penting di Indonesia.
Dalam konteks Paskibraka, aspek kualitas menjadi penting karena songkok dikenakan dalam rangkaian upacara kenegaraan yang menuntut kerapian dan kedisiplinan.
Songkok BHS dan Atlas Edisi Paskibraka dibuat dengan material berkualitas, detail jahitan yang presisi, serta desain yang mempertimbangkan kenyamanan saat dikenakan. Karakter khas songkok Indonesia tetap dipertahankan dengan sentuhan desain yang lebih modern sehingga dapat digunakan lintas generasi tanpa menghilangkan unsur tradisinya.
Manager Marketing PT Behaestex, Nur Yahya, mengatakan bahwa keberadaan produk tersebut dalam rangkaian kegiatan kenegaraan sejak 2019 menjadi sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab.
"Menjadi bagian dari momen bersejarah di Istana Negara sejak tahun 2019 merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi Behaestex. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan songkok dengan kualitas terbaik, mengedepankan kenyamanan, serta tetap menjaga nilai-nilai budaya Indonesia yang menjadi identitas bangsa," ujar Nur Yahya.
Menurutnya, songkok memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar bagian dari busana resmi. Penggunaannya dalam berbagai momentum penting juga menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat tetap hadir di tengah perkembangan zaman.
"Melalui Songkok BHS dan Atlas Edisi Paskibraka, kami berharap masyarakat semakin mencintai produk dalam negeri sekaligus bangga mengenakan karya anak bangsa. Kami percaya bahwa melestarikan budaya dapat dimulai dari pilihan sederhana, termasuk menggunakan produk lokal yang berkualitas," tambah Nur Yahya.
Penggunaan songkok dalam kegiatan Paskibraka juga memperlihatkan pertemuan antara nilai tradisi dan kebutuhan busana formal yang mengutamakan kerapian. Dalam konteks upacara kenegaraan, aspek tersebut menjadi penting karena setiap detail penampilan memiliki keterkaitan dengan disiplin dan penghormatan terhadap prosesi.
Di luar momentum peringatan Hari Kemerdekaan, songkok dengan karakter formal juga dapat digunakan dalam berbagai kegiatan resmi, upacara, lingkungan pendidikan, organisasi, hingga kegiatan keagamaan.
Bagi industri tekstil nasional, keberadaan songkok dalam berbagai kegiatan formal turut menunjukkan bahwa produk berbasis budaya lokal dapat terus dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat modern. Perpaduan antara material, ketelitian pengerjaan, kenyamanan, dan karakter tradisional menjadi bagian penting agar songkok tetap relevan sekaligus mempertahankan identitasnya.
Melalui kehadiran Songkok BHS dan Atlas Edisi Paskibraka, PT Behaestex berharap semangat menggunakan produk buatan Indonesia dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan budaya. Songkok yang hadir dalam salah satu prosesi kenegaraan paling penting di Indonesia pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai busana, tetapi juga tentang perjalanan panjang sebuah penutup kepala yang telah beradaptasi dengan beragam tradisi, menjadi bagian dari identitas masyarakat, dan kemudian memperoleh tempat dalam simbol kebangsaan Indonesia.
(Khafid Mardiyansyah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.