Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Nagoro, Desa di Jepang yang Dihuni Ratusan Boneka dan Menyimpan Kisah Sunyi

Djanti Virantika , Jurnalis-Senin, 10 Agustus 2026 |14:05 WIB
Mengenal Nagoro, Desa di Jepang yang Dihuni Ratusan Boneka dan Menyimpan Kisah Sunyi
Mengenal Desa Nagoro di Jepang. (Foto: Offbeat Japan)
A
A
A

DI tengah pegunungan Tokushima, Jepang, terdapat sebuah desa kecil dengan pemandangan yang tidak biasa. Nagoro, yang berada di kawasan Lembah Iya, dikenal sebagai “Village of Dolls” atau desa boneka.

Nama ini tak sembarangan disematkan ke Nagoro. Pasalnya, ada ratusan boneka seukuran manusia menghuni berbagai sudut wilayah tersebut.

Sekilas, pemandangan di Nagoro mungkin terasa ganjil. Boneka-boneka terlihat duduk di halte, berdiri di pinggir jalan, berada di dalam rumah, hingga memenuhi ruang kelas sekolah lama. Namun, di balik pemandangan unik tersebut terdapat kisah tentang sebuah desa yang perlahan kehilangan penduduknya.

Nagoro

1. Berawal dari Satu Boneka

Dilansir dari Offbeat Japan, kisah Nagoro tidak bisa dilepaskan dari sosok Tsukimi Ayano. Ia merupakan warga Nagoro yang pernah menghabiskan sebagian hidupnya sebagai ibu rumah tangga di Osaka sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya pada 2002.

Ayano sebenarnya telah menyukai kegiatan membuat boneka sejak lama. Setelah kembali ke Nagoro, ia membuat sebuah boneka berbentuk manusia untuk menjaga ladang. Boneka tersebut dibuat menyerupai ayahnya yang telah meninggal dunia.

Respons warga sekitar ternyata cukup menarik. Melihat sosok menyerupai manusia berada di ladang, para tetangga memberikan berbagai reaksi. Dari situlah, Ayano kemudian mulai membuat lebih banyak boneka.

Ayano akhirnya membuat boneka berdasarkan orang-orang yang telah meninggalkan desa, meninggal dunia, maupun orang yang pernah memiliki hubungan dengan Nagoro. Lambat laun, jumlah boneka semakin banyak hingga menjadi bagian dari kehidupan desa.

Fakta Unik Desa Nagoro di Jepang yang Dihuni Boneka Mirip Manusia

2. Lebih dari 300 Boneka

Nagoro sendiri mengalami penurunan jumlah penduduk seperti banyak desa lain di Jepang. Saat jumlah warga semakin sedikit, boneka-boneka buatan Ayano justru semakin memenuhi ruang-ruang yang ditinggalkan manusia.

Desa yang hanya dihuni sekitar 20 orang itu kini memiliki lebih dari 300 boneka. Masing-masing boneka tidak dibuat sekadar sebagai pajangan. Ayano memberikan nama, usia, kepribadian, serta cerita kepada boneka-boneka tersebut.

Karena itulah, berjalan menyusuri Nagoro terasa seperti memasuki sebuah desa yang dihuni manusia dalam bentuk yang berbeda. Ada boneka yang terlihat duduk di halte bus, ada yang berada di sekolah, sementara lainnya ditempatkan di rumah dan berbagai sudut desa.

 

3. Sekolah Lama yang Dipenuhi Boneka

Nagoro

Salah satu tempat yang menarik perhatian pengunjung adalah sekolah lama Nagoro, yang dikenal sebagai Kakashi no Shogakko. Bangunan tersebut menjadi salah satu lokasi yang dapat dikunjungi untuk melihat lebih dekat kehidupan boneka-boneka buatan Ayano.

Di ruang kelas, boneka-boneka ditempatkan sedemikian rupa sehingga menciptakan suasana seperti sekolah yang masih aktif. Pemandangan tersebut sekaligus mengingatkan pada masa ketika desa masih memiliki lebih banyak penduduk.

Selain sekolah, terdapat pula sebuah bengkel kecil di jalan utama yang berkaitan dengan pembuatan boneka. Pengunjung dapat melihat bagaimana benda-benda sederhana seperti kayu, kawat, koran, dan kain dapat diubah menjadi sosok menyerupai manusia.

4. Boneka Punya Festival Sendiri

Keunikan Nagoro tidak berhenti pada keberadaan ratusan boneka. Boneka-boneka tersebut bahkan memiliki festival sendiri yang digelar setiap tahun pada Minggu pertama bulan Oktober.

Keberadaan festival tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan cerita dan tradisi unik Nagoro sekaligus menarik perhatian wisatawan. Desa yang dulunya perlahan kehilangan kehidupan kini justru menjadi tujuan bagi orang-orang yang penasaran dengan kisah di balik ratusan sosok yang tersebar di dalamnya.

Bagi sebagian orang, melihat ratusan boneka menyerupai manusia di sebuah desa terpencil mungkin terdengar menyeramkan. Terlebih ketika sore mulai berganti malam dan bayangan boneka terlihat semakin panjang di tengah pegunungan.

Namun, Nagoro sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih emosional daripada sekadar pemandangan yang unik. Boneka-boneka tersebut menjadi cara Ayano untuk mengenang orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan desa. Setiap sosok memiliki cerita dan alasan mengapa ia dibuat.

Karena itu, Nagoro lebih tepat dilihat sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan, kenangan, dan orang-orang yang pernah tinggal di sana. Ketika malam mulai turun, suasana Nagoro berubah drastis.

Desa kecil yang dikelilingi pegunungan menjadi semakin sunyi. Boneka-boneka yang pada siang hari terlihat unik perlahan menciptakan bayangan panjang dan terasa lebih misterius.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement