Secara keseluruhan, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dalam program CKG, yakni dialami lebih dari 40 persen peserta. Posisi berikutnya ditempati anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan serumen (kotoran telinga) 7 persen, serta obesitas 7 persen.
Temuan tersebut menunjukkan Indonesia kini menghadapi double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Artinya, persoalan gizi tidak lagi hanya didominasi kekurangan gizi, tetapi juga meningkatnya jumlah anak dengan gizi berlebih atau obesitas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil CKG akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," ujar Budi dalam siaran pers, dikutip Jumat (17/7/2026).
Menurut Budi, Kemenkes kini tidak hanya berfokus pada deteksi dini melalui CKG, tetapi juga mulai memperkuat layanan pengobatan atau tatalaksana bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Ia mengungkapkan, sebanyak 35,4 persen peserta CKG 2025 yang terdiagnosis penyakit kronis kembali menjalani pengobatan pada CKG 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen pasien hipertensi berhasil mengendalikan tekanan darah hingga mencapai batas normal.