JAKARTA - Beberapa tahun terakhir ini, demam maraton masih terus berlanjut. Sepatu lari plat karbon dengan sol tebal kini seolah menjadi perlengkapan wajib saat lomba karena diklaim mampu meningkatkan efisiensi dan menghemat energi.
Melansir The Standard, sejumlah penelitian menunjukkan kalau sepatu ini bisa mengurangi pembuangan energi saat berlari sekitar 2 persen sampai 4 persen, sehingga lari menjadi lebih efisien. Namun, seorang terapis fisik, dr. Chung Wai-man membagikan pandangannya bahwa meski sepatu plat karbon ini bikin "hemat tenaga", produk tersebut belum tentu "lebih aman".
Chung menjelaskan kalau inti dari desain sepatu plat karbon ini memadukan sol tengah (midsole) yang sangat kenyal dengan plat serat karbon yang kaku, serta struktur bagian depan kaki yang melengkung tajam. Desain ini bisa membuat pola berjalan atau berlari (gait) jadi lebih efisien karena memangkas waktu yang dihabiskan bagian depan kaki untuk menekuk.
Beberapa studi menunjukkan kalau sol melengkung ini bisa mengurangi tekanan pada bagian depan kaki, tetapi di saat yang sama juga mengubah distribusi beban gaya secara keseluruhan pada kaki.
Analisis biomekanika menunjukkan kalau plat karbon dan sol tebal ini mengubah cara kerja sendi pergelangan kaki serta otot kaki, yang akhirnya memengaruhi beban pada otot betis dan tendon Achilles. Secara klinis, banyak pelari yang beralih ke sepatu pelat karbon mengalami betis tegang, kaku, bahkan nyeri pada bagian tendon Achilles. Gejala-gejala ini bakal makin terasa saat volume atau intensitas lari mulai ditingkatkan.
Chung menegaskan kalau saat ini belum ada bukti pasti yang menyatakan bahwa sepatu plat karbon langsung menaikkan angka cedera secara menyeluruh. Namun, satu hal yang pasti, sepatu ini mengubah cara tubuh menerima tekanan gaya. Kalau tubuh belum benar-benar siap, cedera pun bisa mulai bermunculan.
Tidak semua orang cocok memakai sepatu plat karbon. Tiga kelompok pelari berikut ini harus ekstra hati-hati: