Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Susah Berhenti Merokok? Waspada Penyakit PPOK

Niko Prayoga , Jurnalis-Senin, 06 Juli 2026 |08:10 WIB
Susah Berhenti Merokok? Waspada Penyakit PPOK
Susah Berhenti Merokok? Waspada Penyakit PPOK (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Kebiasaan merokok tidak hanya meningkatkan risiko kanker paru, tetapi juga dapat memicu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), gangguan pernapasan kronis yang menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru. Sayangnya, banyak orang baru menyadari penyakit ini ketika fungsi paru sudah menurun dan sulit dipulihkan.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, mengatakan bahwa PPOK bukan sekadar gangguan pernapasan biasa. Penyakit ini menyebabkan saluran napas menyempit dan jaringan paru mengalami kerusakan permanen sehingga tubuh kesulitan memperoleh oksigen.

"Jadi, PPOK itu bukan penyakit biasa. Ini kondisi di mana saluran napas menyempit dan jaringan paru itu rusak, sehingga oksigen itu susah masuk. Dan yang bikin bahaya, kerusakannya ini tidak bisa kembali normal," kata dr. Aditya.

Gejala PPOK

Menurut dr. Aditya, gejala awal PPOK sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, keluhan seperti sesak napas, napas pendek, hingga mudah lelah bisa menjadi tanda awal penyakit tersebut.

"Kalian pernah lihat enggak nih? Orang yang napasnya pendek. Jalan sedikit aja udah ngos-ngosan. Banyak yang bilang, 'Ah, cuma faktor usia.' Padahal, bisa jadi itu Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK," ujarnya.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa PPOK merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Jumlah kasusnya diperkirakan terus meningkat, terutama di negara-negara dengan prevalensi perokok yang tinggi.

"Data dari WHO ini menyebutkan bahwa PPOK adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Bahkan, ini diprediksi akan terus meningkat, terutama di negara dengan tingkat merokok yang tinggi," tutur dr. Aditya.

Ia menegaskan bahwa risiko PPOK tidak hanya mengintai perokok aktif. Perokok pasif maupun orang yang sering terpapar polusi udara dan asap dari proses memasak juga berisiko mengalami penyakit ini.

"Dan ini yang sering orang enggak sadar, penyebab utamanya itu bukan cuma rokok aktif aja, tapi paparan asap rokok, polusi udara, bahkan asap dapur di rumah bisa jadi faktor pemicunya," tambahnya.

Dr. Aditya menjelaskan, zat-zat berbahaya dalam asap rokok dapat memicu peradangan kronis yang merusak alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru. Akibatnya, paru-paru kehilangan elastisitas sehingga proses pertukaran oksigen menjadi terganggu.

"Ada penelitian menunjukkan bahwa peradangan kronis akibat asap rokok itu menyebabkan kerusakan alveoli, kantung udara kecil di paru, yang akhirnya bikin paru kehilangan elastisitasnya. Hasilnya, napas itu terasa enggak pernah penuh," jelas dr. Aditya.

Pada kondisi yang sudah berat, penderita PPOK bahkan dapat bergantung pada terapi oksigen dalam jangka panjang. Aktivitas sederhana seperti mandi, berjalan ke dapur, atau berbicara pun dapat terasa sangat melelahkan karena tubuh kekurangan oksigen.

"Nah, kalau sudah parah, itu biasanya pasien bisa bergantung pada oksigen seumur hidup. Bahkan, aktivitas sederhana seperti misalnya mandi, jalan ke dapur, bicara, itu terasa berat. Dan realitanya, banyak orang baru sadar pentingnya paru-paru saat sudah kehilangan kemampuannya," ungkapnya.

Karena itu, dr. Aditya mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau riwayat merokok. Pemeriksaan sejak dini sangat penting mengingat kerusakan paru akibat PPOK tidak dapat dipulihkan.

"Jadi, kalau kamu sekarang misalnya masih sering batuk, gampang sesak, atau punya riwayat merokok, jangan tunggu sampai terlambat. Karena paru-paru itu, sekali rusak, tidak bisa diganti," pungkas dr. Aditya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement