Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Semprot Parfum di Leher Bikin Awet Wanginya?

Agustina Wulandari , Jurnalis-Minggu, 07 Juni 2026 |21:00 WIB
Benarkah Semprot Parfum di Leher Bikin Awet Wanginya?
Ilustrasi pakai parfum. (Foto: dok Freepik/prostooleh)
A
A
A

JAKARTA - Bagi sebagian besar orang, menyemprotkan parfum di area leher sudah menjadi refleks atau ritual wajib sebelum memulai aktivitas. Leher sering kali dianggap sebagai titik nadi utama agar aroma tubuh tetap wangi sepanjang hari. 

Namun, apakah kebiasaan ini benar-benar efektif membuat parfum bertahan lebih lama secara ilmiah, ataukah itu hanya mitos belaka?

Riset di bidang kimia wewangian (fragrance science) dan dermatologi memberikan jawaban yang cukup menarik, yaitu menyemprot parfum di leher meningkatkan proyeksi aroma (sillage), tetapi belum tentu membuatnya bertahan paling lama.

Secara anatomis, leher adalah salah satu titik nadi utama manusia. Di area ini, pembuluh darah karotis terletak sangat dekat dengan permukaan kulit yang cenderung tipis.

Menurut studi mengenai penguapan molekul wewangian, panas tubuh bertindak sebagai generator alami yang mengaktifkan molekul parfum. Kulit leher yang hangat akan mempercepat penguapan top notes (aroma awal yang segar seperti sitrus) dan mendistribusikan heart notes (aroma utama) ke udara sekitar secara lebih intens. Jadi, menyemprot di leher sangat efektif untuk proyeksi aroma agar orang lain di sekitar dapat menciumnya dengan jelas.

Namun, menurut Dokter Umum dan Influencer Kesehatan Adam Prabata, menyemprot parfum di area leher sebaiknya jangan dilakukan, karena ada zat-zat kimia tertentu dalam parfum yang berpotensi hormon tiroid, yakni endocrine-disrupting chemicals (EDC).

“Beberapa zat tersebut adalah phthalates, parabens, dan triclosan. Yang perlu diperhatikan adalah, sifat zatnya terakumulasi di tubuh dapat melalui jalur mana saja, tidak khusus karena disemprotkan di leher,” tulisnya dalam Instagram pribadinya, dikutip Minggu (7/6/2026).

Ia menyebut, masalah yang mungkin muncul adalah dermatitis di kulit. “Kalau ini ada penelitian jelasnya. Keluhannya bisa berupa gatal, kemerahan, dan kulit kering,” ungkapnya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement