KEHADIRAN bayi baru di keluarga adalah momen yang membahagiakan. Namun bagi anak pertama, perubahan ini bisa menjadi hal besar yang membingungkan.
Anak yang sebelumnya menjadi pusat perhatian, kini harus belajar berbagi kasih sayang, waktu, dan perhatian orangtua. Karena itu, mempersiapkan mental anak pertama sebelum adik lahir sangat penting agar ia merasa aman, dicintai, dan siap menjalani peran barunya sebagai kakak.
Berikut tips yang bisa dilakukan orangtua untuk siapkan mental anak pertama menyambut kelahiran adik:
Dilansir dari Today’s Parent, Kamis (21/5/2026), mulailah mengenalkan kehadiran adik dengan bahasa sederhana sesuai usia anak. Jelaskan bahwa nanti akan ada bayi kecil di rumah yang membutuhkan banyak bantuan.
Hindari penjelasan yang terlalu rumit. Anak hanya perlu memahami bahwa keluarga akan bertambah anggota baru, bukan bahwa posisinya tergantikan.
Ajak anak ikut memilih baju bayi, menata perlengkapan adik, atau menyiapkan kamar. Keterlibatan kecil seperti ini membuat anak merasa dihargai dan menjadi bagian penting dalam keluarga.
Namun ingat, jangan sampai anak merasa dibebani tanggung jawab besar. Fokus utamanya adalah membuatnya merasa dilibatkan, bukan diwajibkan menjadi pengasuh.
Salah satu ketakutan terbesar anak pertama adalah kehilangan perhatian orangtua. Karena itu, tetap luangkan waktu khusus untuknya meski hanya beberapa menit setiap hari.
Waktu sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur, bermain bersama, atau sekadar mengobrol bisa membantu anak merasa tetap dicintai. Anak tidak selalu membutuhkan waktu yang lama, tetapi membutuhkan perhatian yang tulus dan konsisten.
Tidak semua anak langsung antusias memiliki adik. Ada yang merasa cemburu, marah, atau justru menjauh dari bayi.
Perasaan ini normal. Hindari memaksa anak untuk terus mencium, menggendong, atau selalu mengalah demi adik. Biarkan hubungan mereka tumbuh secara alami. Yang terpenting, orangtua tetap menerima dan memahami emosi anak tanpa menghakimi.
Jika anak menunjukkan rasa cemburu atau marah, jangan langsung memarahinya. Dengarkan perasaannya dan bantu ia memahami emosinya. Kalimat sederhana membuat anak merasa dimengerti dan lebih mudah menenangkan emosinya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.