JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi membuat harga berbagai kebutuhan rumah tangga ikut naik. Produk seperti susu anak, pampers, kosmetik, hingga kebutuhan harian lain yang masih bergantung pada impor bisa menjadi lebih mahal.
Di tengah kondisi tersebut, para ibu perlu lebih cermat dalam mengatur keuangan keluarga agar pengeluaran tetap terkendali meski harga barang naik. Perencana keuangan, Andy Nugroho, membagikan sejumlah tips yang bisa diterapkan.
1. Perketat Budgeting Bulanan
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperketat pengaturan anggaran rumah tangga. Sebab ketika harga kebutuhan naik sementara penghasilan tetap, keluarga harus lebih disiplin mengontrol pengeluaran.
“Ketika harga barang naik sementara penghasilan tidak naik, otomatis kita harus lebih kencang lagi melakukan budgeting,” ujar Andy.
2. Dahulukan Kebutuhan Wajib
Prioritaskan pengeluaran yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda. Misalnya cicilan utang, uang sekolah anak, pembayaran listrik, air, hingga kebutuhan pokok rumah tangga.
Menurut Andy, kebutuhan utama harus menjadi prioritas pertama sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya.
3. Susun Skala Prioritas Belanja
Setelah kebutuhan wajib terpenuhi, ibu rumah tangga perlu memilah kebutuhan penting yang masih bisa disesuaikan jumlahnya, seperti susu anak, pampers, kosmetik, makan harian, hingga biaya transportasi.
Dengan membuat skala prioritas, pengeluaran bisa lebih terkontrol dan tidak mudah membengkak.
4. Cari Alternatif Produk yang Lebih Murah
Jika harga kebutuhan tertentu naik drastis, masyarakat bisa mencari produk pengganti dengan fungsi serupa namun harga lebih terjangkau.
“Kalau ternyata harganya sudah terlalu mahal, pilihannya bisa mengganti dengan barang serupa yang lebih murah, beda merek, atau kualitasnya diturunkan,” kata Andy.
Misalnya mengganti merek susu, memilih kosmetik yang lebih ekonomis, atau membeli kebutuhan rumah tangga saat promo.
5. Tekan Pengeluaran Transportasi
Biaya transportasi juga bisa dihemat dengan mencari alternatif yang lebih murah. Contohnya menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan dengan teman kantor, hingga bersepeda.
“Kalau biaya transport terasa memberatkan, mau tidak mau kita cari alternatif yang lebih hemat,” ujarnya.
6. Kurangi Pengeluaran untuk Hiburan
Pengeluaran yang bersifat kesenangan seperti nongkrong di kafe, jajan berlebihan, atau hiburan lain sebaiknya mulai dikurangi sementara waktu.
Menurut Andy, pos pengeluaran hiburan menjadi prioritas terakhir dan bisa dihentikan lebih dulu jika kondisi keuangan sedang ketat.
7. Fokus pada Kebutuhan, Bukan Keinginan
Di tengah kenaikan harga, masyarakat perlu lebih bijak membedakan kebutuhan dan keinginan. Membeli barang karena tren atau impulsif justru bisa memperberat kondisi finansial keluarga.
Dengan pengaturan keuangan yang disiplin dan skala prioritas yang jelas, kondisi keuangan rumah tangga diharapkan tetap stabil meski harga kebutuhan terus meningkat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.