Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Hantavirus Mematikan? Ini Jawaban Dokter

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Kamis, 14 Mei 2026 |11:09 WIB
Kenapa Hantavirus Mematikan? Ini Jawaban Dokter
Kasus Hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan membuat banyak masyarakat khawatir (Foto: freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kasus Hantavirus yang belakangan ramai diperbincangkan membuat banyak masyarakat khawatir. Meski tergolong langka, infeksi virus ini dapat berbahaya karena mampu menyerang paru-paru hingga ginjal dan menyebabkan kondisi fatal jika tidak segera ditangani.

Diketahui, kemunculan kasus hantavirus sempat menjadi sorotan setelah ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, yang dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital, dr. Rio Yansen Cikutra, menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.

Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi,” kata dr. Rio dalam keterangannya.

Proses Penularan Hantavirus

Menurutnya, penularan hantavirus dapat terjadi melalui udara yang terkontaminasi, kontak langsung dengan tikus atau sarangnya, hingga menyentuh wajah setelah terpapar benda yang tercemar virus. Gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan.

“Pada beberapa jenis tertentu seperti Andes hantavirus, terdapat kemungkinan penularan antar manusia, meskipun kasusnya sangat jarang,” lanjutnya.

dr. Rio menjelaskan, gejala hantavirus umumnya muncul dalam dua tahap. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot terutama di punggung dan paha, serta tubuh yang terasa sangat lemas.

Gejala juga dapat disertai gangguan pencernaan seperti nyeri perut, muntah, dan diare sehingga kerap dianggap sebagai penyakit biasa.

Namun, jika kondisi memburuk, pasien bisa mengalami batuk, sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah turun drastis hingga syok, gangguan fungsi ginjal, bahkan jaundice atau tubuh menguning.

“Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Rio.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai area dengan populasi tikus tinggi, baik di rumah maupun tempat kerja. Ruangan tertutup yang lama tidak dibersihkan seperti gudang, loteng, atau bangunan kosong juga dinilai berisiko karena debu yang mengandung virus dapat mudah terhirup.

Selain itu, aktivitas di alam bebas seperti berkemah tanpa menjaga kebersihan makanan dan tempat tidur juga dapat meningkatkan risiko paparan hantavirus.

Untuk pencegahan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup celah yang dapat menjadi akses masuk tikus, serta membersihkan area berdebu menggunakan metode pel basah agar partikel tidak beterbangan di udara.

“Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelas dr. Rio.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement