Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pentingnya Ruang Inklusif bagi Anak Disabilitas

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Senin, 11 Mei 2026 |15:08 WIB
Pentingnya Ruang Inklusif bagi Anak Disabilitas
Pentingnya Ruang Inklusif bagi Anak Disabilitas (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Anak disabilitas, khususnya anak autis non-verbal, dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk dipahami lingkungan sekitar. Padahal, setiap anak memiliki cara berbeda untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri.

Isu tersebut diangkat dalam buku “Naya dan Talkernya” yang sekaligus menjadi momentum diperkenalkannya gerakan “Setiap Anak Punya Suara”. Kegiatan ini sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

“Naya dan Talkernya” mengisahkan perjalanan seorang anak autis non-verbal dalam menemukan cara berkomunikasi melalui talker, alat bantu komunikasi yang membantu anak menyampaikan kebutuhan, emosi, hingga pikirannya. Penulis buku sekaligus ibu dari Naya, Dewi Mareta, mengatakan pengalaman anaknya menggunakan talker menjadi titik penting dalam perkembangan komunikasi sehari-hari.

“Terbukanya komunikasi ini merupakan langkah yang sangat berarti dan diharapkan dapat membantu perkembangan positif lainnya,” kata dia.

Penggagas gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, Sofia Karina, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa anak autis non-verbal tetap dapat berkomunikasi dengan caranya sendiri.

Menurutnya, anak-anak disabilitas membutuhkan dukungan lingkungan agar merasa aman dan percaya diri dalam mengekspresikan diri.

“Saya berharap gerakan ini dapat mendorong kesadaran, empati, dan pemahaman publik terhadap anak autis non-verbal. Anak-anak ini juga membutuhkan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk didengar,” katanya.

Pembina LKS Disabilitas Rumah Autis Depok Yayasan Cagar, Suyono, menilai kolaborasi antara orang tua, guru, dan masyarakat sangat penting untuk membantu perkembangan anak berkebutuhan khusus.

“Kami percaya kolaborasi antar orang tua, guru dan masyarakat adalah kunci. Anak autis non-verbal bukan tidak mampu berkomunikasi, melainkan memiliki cara komunikasi yang berbeda,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan para terapis anak berkebutuhan khusus yang hadir dalam acara tersebut. Mereka menilai pemahaman lingkungan sekitar sangat memengaruhi perkembangan kemampuan komunikasi anak.

“Ketika lingkungan memahami cara anak berkomunikasi, anak akan merasa lebih aman dan percaya diri untuk mengekspresikan dirinya,” papar salah satu terapis.

Sementara itu, CEO Indonesia Writing Edu Center (IWEC), Maylia Erna Sutarto, mengatakan kisah Naya diharapkan dapat memperkaya literasi anak terkait isu disabilitas dan inklusi sosial. Menurutnya, buku cerita anak dengan tema autisme dan komunikasi alternatif masih cukup minim di Indonesia.

Gerakan “Setiap Anak Punya Suara” juga mengajak keluarga, sekolah, komunitas, media, hingga institusi publik untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih ramah bagi anak disabilitas. Melalui gerakan ini, masyarakat diingatkan bahwa setiap anak memiliki suara yang layak untuk didengar, meski tidak selalu disampaikan lewat kata-kata.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement