JAKARTA - Kanker paru kini tak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit ini pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan lanskap kanker di Indonesia.
Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), Tanujaa Rajasekaran, menyoroti perubahan profil pasien kanker paru sekaligus pentingnya deteksi dini.
“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ungkap Dr. Tanujaa saat ditemui di kawasan Kebayoran.
Dalam dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi kemoterapi menuju terapi yang lebih terpersonalisasi. Kini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker, sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Kemajuan seperti imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif. Sementara terapi radiasi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga membantu mengurangi efek samping, sehingga pasien terutama usia produktif dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama pengobatan.
"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," tambahnya.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa.
Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi lebih kompleks.
"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," jelas Dr. Tanujaa.
Ia mengingatkan, apabila gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi medis tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan besar terhadap tingkat kelangsungan hidup serta kualitas hidup pasien.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.