Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sahur Pakai Mi Instan dan Nasi, Ternyata Miliki Dampak Buruk 

Rani Hardjanti , Jurnalis-Minggu, 01 Maret 2026 |02:31 WIB
Sahur Pakai Mi Instan dan Nasi, Ternyata Miliki Dampak Buruk 
Sahur Pakai Mi Instan dan Nasi, Ternyata Miliki Dampak Buruk. (Ilustrasi: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kebiasaan sahur dengan menu praktis seperti mi instan dicampur nasi putih kembali menjadi sorotan. Ternyata dampaknya bikin lapar dan lemas. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa pola makan tinggi karbohidrat sederhana saat sahur dapat memicu lonjakan gula darah yang cepat dan berdampak pada rasa lapar serta lemas di siang hari.

Menurut Menkes, kombinasi mi instan dan nasi merupakan contoh double karbohidrat yang didominasi karbohidrat olahan dengan indeks glikemik tinggi. Saat sahur, lanjutnya, tubuh membutuhkan asupan yang bisa bertahan lama. 

"Jika yang dikonsumsi adalah karbohidrat sederhana berlebihan, gula darah akan naik cepat lalu turun cepat. Akibatnya, sebelum waktu berbuka, tubuh sudah terasa lemas dan perut kembali lapar,” ujarnya dalam akun Instagram miliknya, Minggu (1/3/2026). 

Dia menjelaskan, lonjakan gula darah yang drastis juga dapat memicu rasa kantuk, sulit konsentrasi, hingga peningkatan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis saat berbuka. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini berisiko meningkatkan berat badan dan memperburuk kontrol gula darah, terutama bagi masyarakat dengan risiko diabetes.

Selain tinggi karbohidrat sederhana, mi instan umumnya juga mengandung natrium (garam) yang cukup tinggi. Konsumsi garam berlebih saat sahur dapat memicu rasa haus berlebihan selama berpuasa. “Kandungan garam yang tinggi membuat tubuh lebih cepat merasa haus. Ini tentu mengganggu kenyamanan berpuasa,” tambahnya.

 

Menkes menyarankan masyarakat mengganti menu sahur dengan komposisi gizi seimbang, yakni sumber protein, lemak baik, serat, serta karbohidrat kompleks dalam porsi cukup. Protein seperti telur rebus, ayam tanpa kulit, atau tahu-tempe dapat membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Lemak baik dari alpukat atau kacang-kacangan juga membantu menjaga kestabilan energi.

“Karbohidrat tetap boleh dikonsumsi, tetapi pilih yang kompleks seperti nasi merah, oat, atau roti gandum, dan jangan berlebihan. Kuncinya ada pada keseimbangan dan kualitas makanan,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan pentingnya mencukupi cairan dan tidak langsung tidur setelah sahur agar proses pencernaan berjalan optimal. Dengan pengaturan menu yang tepat, masyarakat diharapkan dapat menjalani puasa dengan lebih bugar dan produktif sepanjang hari.

“Kita ingin masyarakat tetap sehat selama Ramadhan. Mulailah dari pilihan sederhana di meja makan saat sahur,” pungkas Menkes.

(Rani Hardjanti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement