JAKARTA - Virus Nipah tengah menjadi perhatian. Sejumlah negara melakukan pengetatan keamanan kesehatan di titik strategis, di antaranya bandara.
Meski disebutkan Jakarta nihil virus Nipah, namun Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan penyakit itu merupakan salah satu hal yang disorot Kementerian Kesehatan.
Dia pun mengaku telah mengerahkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk mengantisipasi hal tersebut.
Bahkan Pramono telah berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan Budi G Sadikin agar Jakarta segera mengantisipasi merebaknya virus Nipah.
"Untuk itu dan saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi, menangani itu," sambungnya, kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
Pramono hingga saat ini menegaskan belum ditemukan virus Nipah di wilayah DKI Jakarta. Pramono menegaskan, Jakarta masih terbebas dari virus tersebut.
"Alhamdulillah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan yang terkena virus Nipah," kata Pramono kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
Politikus PDIP itu menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan lebih tanggap menghadapi penyakit.
"Dan mudah-mudahan Jakarta lebih tanggap, karena persoalan yang menyangkut virus Nipah terus kemudian yang kemarin kencing apa? Tikus dan sebagainya mudah-mudahan tidak terjadi di Jakarta," pungkasnya.
Seperti diketahui, sejumlah bandara di Asia kembali menerapkan protokol kesehatan ala pandemi Covid-19 menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap virus Nipah yang kembali muncul di India. Penyebab dan Gejala Virus Nipah
Negara-negara seperti Thailand, Nepal, Taiwan, Pakistan, Singapura, dan Indonesia mulai memperketat pengawasan terhadap penumpang internasional, khususnya yang datang dari wilayah terdampak. Demikian seperti dikutip dari Pandemitalk.
Menurut data Kemenkes, Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (fruit bats/Pteropus spp.), yang tidak sakit sendiri tetapi bisa menularkan virus ini ke hewan lain seperti babi atau langsung ke manusia.
Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang tercemar oleh ekskresi kelelawar (misalnya nira atau air nira yang terkontaminasi), atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi saat wabah di peternakan babi di Sungai Nipah, Malaysia dan Singapura pada tahun 1999, yang membuat ratusan orang sakit dan banyak yang meninggal.
(Rani Hardjanti)