JAKARTA – Saat anak tampak sangat rewel atau takut saat harus berpisah dari orangtua, beberapa orang mungkin menganggapnya wajar. Namun, jika kecemasan tersebut berlangsung intens dan berkepanjangan, bisa jadi itu adalah Separation Anxiety Disorder (SAD)—gangguan kecemasan separasi yang lebih serius dan memerlukan perhatian khusus.
Gejala Separation Anxiety Disorder pada Anak
Menurut Mayo Clinic, ciri-ciri SAD mencakup:
- Kesedihan dan tangisan intens saat dipisahkan dari orang tua atau pengasuh.
- Kekhawatiran ekstrem bahwa sesuatu buruk akan terjadi pada orang terdekat (seperti diculik atau jatuh sakit).
- Penolakan menempuh kegiatan jauh dari rumah atau tinggal tanpa pengasuh.
-Takut tidur jauh dari rumah, mimpi buruk yang berulang tentang pemisahan, serta keluhan fisik seperti sakit kepala atau perut sebelum berpisah.
Sumber lain seperti WebMD menambahkan gejala:
- Khawatir berlebihan tentang keselamatan diri saat terpisah, atau keselamatan orang tua saat anak pergi.
- Enggan bersekolah, takut tidur sendiri, atau takut tertinggal.
Mental Health Foundation juga menjelaskan tanda-tanda yang konsisten seperti
Ketergantungan yang berlebihan, tantrum emosional panjang, school refusal, serta keluhan fisik yang berulang saat akan berpisah.
Mengapa Perlu Diwaspadai?
Jika dibiarkan, SAD dapat mengganggu fungsi anak di sekolah dan lingkungan sosialnya. Risiko lanjutan meliputi: anxiety lainnya, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), bahkan depresi pada masa dewasa. Diagnosis dini dan penanganan efektif bisa mencegah berkembangnya kondisi tersebut.
Cara Pencegahan & Penanganannya
1. Kenali tanda sejak dini dan cari bantuan profesional.
Jika kecemasan lebih berat dibanding anak seusianya, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog. Diagnosis dan terapi awal sangat membantu.
2. Terapi CBT dan Teknik Exposure
Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya teknik exposure di mana anak secara bertahap diajak terpisah dalam situasi nyaman, terbukti efektif. Orang tua juga diberi peran untuk mendukung kemandirian emosional anak
3. Strategi di rumah dan sekolah
Mulai dengan pemisahan singkat, seperti menit-menit saat orang tua meninggalkan ruangan dan kembali segera.
Lakukan rutinitas perpisahan yang konsisten (misalnya cium-cium, kata-kata optimis).
Libatkan guru atau pengasuh lain untuk perlahan membuat anak merasa aman di lingkungan selain rumah.
4. Tunjukkan ketenangan dan kepercayaan diri sebagai orangtua
Anak sering meniru respons emosional orangtua. Menunjukkan tenang dan yakin saat perpisahan dapat membantu mereka lebih cepat beradaptasi.
5. Dukung melalui komunikasi terbuka dan konsistensi
Biarkan anak tahu perasaan mereka didengar. Jadikan rutinitas harian, tidur, dan sekolah mudah diprediksi, ini memberi rasa aman dan kontrol diri.
(Rani Hardjanti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.