AKUPUNTUR telah lama dikenal memiliki segudang manfaat untuk kesehatan, antara lain dalam penanganan gangguan saraf, sendi, hormon, imunitas, serta gangguan psikologis. Namun, penggunaan jarum dalam terapi akupunktur terkadang membuat sejumlah orang merasa takut.
Kini dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, terapi akupuntur bisa dilakukan tanpa menggunakan jarum, melainkan dengan penggunaan akupunktur laser. Dokter Spesialis Akupunktur Medik Subspesialis Akupunktur Analgesia dan Anestesia RS Pondok Indah, dr. Dwi Rachma Helianthi Sp. Akp, Subsp. A. A. (K) menjelaskan akupuntur laser salah satu modalitas.
Teknik ini dapat menjadi opsi untuk membantu pasien mengatasi berbagai penyakit melalui terapi akupunktur tanpa jarum. Seperti namanya, akupunktur laser menggunakan sinar laser sebagai pengganti jarum untuk merangsang titik akupunktur.
“Secara umum, akupunktur laser memiliki fungsi yang sama dengan akupunktur jarum, bedanya pada efek fotobiomodulasi dari akupunktur laser yang ditimbulkan akibat paparan sinar laser terhadap sel dan jaringan,” ujar dr Dwi.
“Fotobiomodulasi dapat meningkatkan kemampuan pembelahan sel, menurunkan peradangan pada tingkat jaringan, serta memicu perbaikan di tingkat sel maupun jaringan. Alat laser yang digunakan pada akupunktur laser harus memiliki daya minimum 20 mW (milliWatt) untuk dapat menstimulasi titik akupunktur,” katanya.
Dokter Dwi menambahkan akupuntur laser biasanya digunakan pada pasien dengan kasus nyeri, yang penyebabnya berada di area yang sulit dilakukan penusukan jarum. Sebab berisiko menimbulkan komplikasi seperti area leher dan tulang belakang. Dengan akupunktur laser, risiko jarum tertusuk ke saraf, pembuluh darah, atau organ dalam dapat diminimalisir.

“Beberapa kondisi medis yang dapat memanfaatkan akupunktur laser sebagai penanganannya antara lain manajemen nyeri, radang sendi, neuropati diabetik, carpal tunnel syndrome, stroke, parkinson, cerebral palsy, bell’s palsy, hingga berbagai gangguan kejiwaan seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan adiksi,” katanya.
Selain itu, terapi akupunktur laser juga dilakukan untuk mendukung keberhasilan proses bayi tabung. Dalam sejumlah penelitian, calon ibu yang melakukan terapi akupunktur laser pada waktu sehari sebelum dan sehari setelah proses transfer embrio. Cara ini memiliki angka keberhasilan penempelan embrio yang lebih tinggi dibandingkan dengan calon ibu yang melakukan terapi akupunktur dengan jarum.
Akupunktur laser juga menjadi solusi bagi pasien yang tidak boleh ditindak menggunakan jarum akibat kondisi medis tertentu seperti pada pasien yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah, pasien dengan gangguan pembekuan darah seperti hemofilia, dan pasien dengan sistem imun yang rendah seperti penyandang diabetes di mana gula darah tidak terkontrol, atau orang dengan HIV maupun AIDS.
“Pada kasus-kasus seperti ini, dokter spesialis akupunktur medik akan menyarankan penerapan terapi akupunktur laser atau modalitas akupunktur non-invasive lainnya,” tuturnya.
Keunggulan dari akupunktur laser ini memiliki efek fotobiomodulasi atau kemampuan untuk merangsang sel pada area yang terpapar sinar. Rangsangan atau stimulasi ini dapat meningkatkan antioksidan dan memicu pembelahan sel sehingga terjadi regenerasi sel.
“Proses inilah yang bekerja untuk meningkatkan kemampuan penyembuhan luka dan jaringan lunak, mengurangi peradangan, serta meredakan nyeri akut dan kronis. Perlu diingat bahwa jarak antar terapi akupunktur laser tidak boleh terlalu dekat agar tidak terjadi stimulasi yang berlebihan,” kata dr Dwi.
Akupunktur laser sendiri merupakan terapi non-invasive, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan, tidak menimbulkan rasa panas, dan relatif lebih aman.
“Pada pasien anak maupun pasien dewasa yang takut dengan jarum, akupunktur laser dapat menjadi pilihan terapi yang lebih nyaman. Terapi ini juga dapat dikombinasikan dengan metode akupunktur lainnya,” katanya.
Sebelum pasien akan menjalani terapi ini, dokter akan melakukan sdreening melalui anamnesis atau wawancara medis. Hal itu untuk melihat riwayat penyakit, seperti kanker, epilepsi atau autoimun, dan melihat apakah pada tubuh pasien terdapat implan atau prostese.
“Penggunaan akupunktur laser memang memiliki efek samping yang minimal, tetapi dalam penggunaanya tetap harus berhati-hati. Selama terapi berlangsung, pasien wajib mengenakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari sinar laser. Penggunaan akupunktur laser pada ibu hamil dan pasien dengan riwayat kanker juga harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Dengan mengetahui kondisi medis pasien, dokter spesialis akupunktur medik akan menyesuaikan pemilihan modalitas akupunktur yang paling tepat,” tuturnya.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.