PENYAKIT asma pada anak tidak boleh dianggap remeh, sebab kondisi ini berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak. Masalah paru-paru akibat peradangan pada bronkus atau saluran udara ini dapat menyebabkan anak kesulitan bernapas sehingga mengganggu aktivitas, rutinitas dan kualitas hidup mereka.
Dokter Spesialis Paru Anak sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. DR. dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K) menjelaskan, bronkus menyempit ataupun membengkak akan membuat produksi lendir menjadi berlebihan yang akhir dapat menyebabkan seseorang kesulitan bernafas. Gejala utama asma yang biasanya muncul adalah batuk, wheezing, sesak napas, rasa tertekan di dada.
"Sayangnya masih banyak yang belum memahami mengenai kondisi asma, terutama sensitisasi atau proses yang membuat keadaan seseorang menjadi sensitif akan pencetus asma. Pada akhirnya asma tidak terdeteksi sejak dini, padahal ini penting," kata Prof Bambang, dalam siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (7/8/2024).

Merujuk penelitian Yunginger, disebutkan bahwa asma dimulai sejak usia dini dan insidensi paling tinggi pada anak prasekolah (<6 Tahun). Hal ini juga yang akan menjadi faktor angka asma terus merangkak naik pada usia dewasa.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023, total angka penderita asma di Indonesia mencapai 877.531 orang dimana angka tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat 156.977 orang, Jawa Timur 130.683 orang, dan Jawa Tengah 118.184 orang.
Secara usia, data SKI 2023 juga menyebut kalau penderita asma anak pada usia kurang satu tahun sebanyak 11.518 anak, usia 1-4 tahun mencapai 59.253 anak dan rentang usia 5-14 tahun ada sebesar 138.465 anak.
Dari data tersebut proporsi kekambuhan asma dalam 12 bulan terakhir berdasarkan usia masih terbilang tinggi. Untuk usia kurang satu tahun hingga 53,5 persen. Kemudian usia 1-4 tahun kekambuhannya lebih tinggi mencapai 66 persen dan usia 5-14 tahun risiko kambuh 59,8 persen.
Menurut Prof Bambang, penting bagi orangtua untuk memahami bagaimana cara untuk mendeteksi asma sejak dini agar upaya pencegahan sensitisasi akan alergen asma bisa dilakukan sejak masa kehamilan.
Salah satu caranya adalah skrining yang bisa dilakukan lewat Skrining Risiko Asma Pediatrik (Pediatric Asthma Risk Score/PARS), disamping Asthma Pediatric Index yang selama ini dikenal.
"Hasil skrining PARS ini untuk menentukan apakah anak memililki risiko rendah, sedang atau tinggi terhadap asma. PARS menjadi alat yang membantu dokter mengidentifikasi untuk merencanakan tindakan pencegahan atau intervensi sesuai dalam upaya mencegah asma," katanya.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.