Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenali Efek Jangka Panjang Konsumsi Kecubung, Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa

Annastasya Rizqa , Jurnalis-Sabtu, 20 Juli 2024 |20:00 WIB
Kenali Efek Jangka Panjang Konsumsi Kecubung, Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa
Bahaya konsumsi kecubung jangka panjang. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

BELUM lama ini publik Tanah Air dihebohkan dengan kasus puluhan korban mabuk kecubung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Korban mabuk kecubung ini sudah mencapai 56 orang sementara dua di antaranya meninggal dunia. Kecubung sendiri merupakan tanaman yang dapat ditemukan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat.

Tanaman ini dapat memabukan bila dikonsumsi berlebihan bahkan bisa menimbulkan efek halusinasi yang berat. Psikater Konsultan Adiksi RSJ Sambang Lihum, Banjarmasin, dr. Firdaus Yamani SpKJ(K) mengungkap efek mabuk kecubung ini bisa sangat berbahaya. Halusinasi berat yang dialami korban bahkan baru bisa hilang dalam waktu sekitar tujuh hari sebelum korban kembali sadar.

“Kalau pertama kali atau sekali menggunakan kecubung itu efeknya paling lama satu minggu, lalu hilang,” tutur Firdaus dalam Media Briefing bersama Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Jumat 19 Juli 2024.

Namun, efek jangka panjang untuk kejiwaan para korban kecubung ini juga bisa terancam. Dokter Firdaus mengatakan bila seseorang mengonsumsi kecubung secara terus menerus, itu bisa menyebabkan kerusakan pada otak dan berdampak pada halusinasi berkepanjangan hingga gangguan jiwa.

Kecubung

“Namun kalau berkali-kali menggunakan (kecubung) bisa menyebabkan kerusakan pada otak yang lebih berat sehingga mereka mengalami sepertu gangguan jiwa yang mengebabkan halusinasi berkepanjangan kemudian terjadi perilaku yang kacau dan fungsi kognitif yang menurun,” katanya.

Tak hanya itu, dampak buruk pada kecubung juga bisa memengaruhi kondisi kesehatan korban. dr. Firdaus menjelaskan kecubung bisa menyebabkan kematian akibat korban mengalami gagal napas imbas konsumsi tanaman kecubung ini.

“Kematiannya itu karena terjadi depresi pernapasan, kelumpuhan pada otot pernapasan sehingga terjadi gagal napas kemudian karena adanya denyut jantung yang cepat,” tuturnya.

(Leonardus Selwyn)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement