OLAHRAGA merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Namun, olahraga juga dapat berdampak negatif pada kesehatan jika seseorang melakukannya hingga melampaui batas kemampuan tubuhnya.
Seperti yang di alami dr. Tirta saat mengikuti acara Audax, sebuah acara bersepeda jarak jauh. Awalnya, dia merasa mampu untuk mengikuti acara tersebut dengan jarak tempuh 1.200 kilometer karena pernah berhasil menyelesaikan dengan total jarak 1.000 kilometer.
Namun, ketika mencobanya dia menyadari bahwa treknya memiliki tanjakan yang tidak beraturan. Dia kemudian memaksa tubuhnya untuk dapat melewati trek Audax tersebut. Hal itu menyebabkan dr. Tirta mengalami kelelahan ekstrem hingga pingsan di kilometer 250, tepatnya di tanjakan Pacitan menuju Gua Jepang.
Merangkum dari video podcast bersama dr. Tirta di akun YouTube HAS Creative pada Minggu (9/6/2024), saat itu, dr. Tirta mengalami cedera parah yang menyebabkan dia terkena hipovolemik dan dehidrasi parah akibat salah manajemen energi. Tubuhnya tidak bisa lagi mengatasi stres fisik yang begitu besar, sehingga akhirnya dia mengalami blackout.

Saat pingsan, denyut jantungnya mencapai 196 bpm, jauh di atas zona aman karena melebihi zona lima. Ketika dibangunkan oleh orang sekitar, dia merasa sangat lemas dan kesulitan untuk menarik napas. Pengalaman ini memberikan dia pelajaran bahwa berlebihan dalam berolahraga dapat berakibat fatal.
Kini, dr. Tirta selalu mengurangi usaha olahraganya ketika heart ratenya telah mencapai zona empat untuk menghindari risiko yang sama. Setelah insiden tersebut, dr. Tirta memutuskan untuk melakukan pemeriksaan medis. Hasilnya menunjukkan bahwa dia mengalami robekan pada hamstring dan masalah pada lututnya.
Selain itu, denyut jantungnya juga sangat tinggi dan massa ototnya masih rendah. Butuh waktu satu tahun bagi dr. Tirta untuk pulih dan mempersiapkan dirinya agar dapat kembali berolahraga seperti semula.
Setelah pemulihan, dr. Tirta memulai kembali partisipasinya dalam acara Audax dengan jarak yang lebih pendek, seperti 200 kilometer di Bandung dan 75 kilometer di Jogja.
Selain itu, dia juga mulai melakukan lari dan gym kembali untuk memulai tahap berolahraga dengan beban yang lebih ringan. Hal tersebut dilakukan agar dia dapat kembali berolahraga dengan cara yang lebih aman dan bertahap agar tidak membahayakan kesehatannya.