PARA ilmuwan Tiongkok di Beijing baru-baru ini menerbitkan penelitian kontroversial tentang virus Corona yang dimodifikasi secara genetik. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa virus yang dimodifikasi ini dapat menyebabkan tingkat kematian 100 persen pada tikus hasil rekayasa yang memiliki genetik serupa dengan manusia.
Melansir dari Oddity Central pada Senin (29/4/2024) para ilmuwan tersebut melakukan eksperimen dengan strain GX_P2V yang bermutasi. Virus ini merupakan kerabat dari virus Corona yang ditemukan pada trenggiling di Malaysia pada 2017, tepatnya tiga tahun sebelum pandemi Covid-19.
Eksperimen ini dilakukan dengan menginfeksi tikus dan melaporkan tingkat kematian mencapai 100 persen pada tikus yang terinfeksi GX_P2V, di mana hal ini jauh melampaui temuan penelitian sebelumnya. Peneliti mencatat bahwa seluruh tikus yang terinfeksi GX_P2V mati dalam waktu delapan hari, hal ini menunjukkan tingkat kematian yang sangat tinggi.

Saat virus mulai melemahkan tubuh inangnya, tikus-tikus tersebut mengalami penurunan berat badan, aktivitas yang lebih lambat, dan postur tubuh yang membungkuk. GX_P2V menyerang berbagai organ pada tikus, termasuk paru-paru, tulang, mata, trakea, dan otak, serta diketahui menyebabkan perubahan warna pada mata hingga menjadi putih secara keseluruhan satu hari sebelum kematian.
Meski temuan ini tampak mengerikan, namun eksperimen tentang GX_P2V dapat menyoroti kemungkinan penyebaran virus ke manusia dan memberikan suatu model yang unik untuk memahami cara kerja virus terkait SARS-CoV-2.
Dengan demikian, penelitian tentang GX_P2V dapat membantu ilmuwan untuk lebih memahami bagaimana virus SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab Covid-19, dapat menyebabkan penyakit pada manusia sehingga cara penyebarannya dapat dikendalikan. Walaupun begitu, temuan ini tetap menghebohkan serta menghadirkan kecaman dari para ilmuwan berbagai bidang.
“Saya tidak melihat ada hal menarik yang dapat dipelajari dari menginfeksi secara paksa jenis tikus aneh yang dimanusiakan dengan virus acak. Sebaliknya, saya bisa melihat bagaimana hal-hal seperti itu bisa menjadi salah,” tutur Seorang pakar epidemiologi di Institut Genetika University College London bernama Francois Balloux, menulis di X.
Balloux menyebut temuan ini mengerikan dan tidak berguna karena tidak memberikan gambaran nyata tentang bagaimana virus GX_P2V dapat mempengaruhi manusia. Selain itu Balloux juga mengkritik kurangnya rincian tentang tingkat keamanan hayati dan tindakan pencegahan keamanan hayati yang diterapkan dalam penelitian yang sedang dibahas.
Kekurangan informasi ini membuatnya khawatir bahwa penelitian tersebut mungkin dilakukan tanpa pengendalian keamanan hayati yang memadai, mirip dengan penelitian yang dilakukan di Wuhan antara 2016-2019 yang diduga menjadi asal mula pandemi Covid-19.
Pendapat Balloux ini disepakati oleh Richard H. Ebright, Profesor Kimia dan Biologi Kimia di Universitas Ruger dan Gennadi Glinsky, seorang pensiunan profesor kedokteran di Stanford. Gennadi Glinsky mengatakan bahwa kegilaan ini harus segera dihentikan.
(Leonardus Selwyn)