ALBETRIANTO ikhlas menerima suratan nasib tidak lolos ujian menjadi calon anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Namun, dia membuktikan bisa sukses menjalani usaha fotokopi sekaligus Agen BRILink.
Jalan hidup setiap orang memang tidak ada yang tahu. Begitu juga perjalanan hidup Albetrianto, pemilik Toko Photocopy & ATK Para Mande di Jalan H Ten No 25A, Rawamangun, Jakarta Timur.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pria yang akrab disapa Albet ini, memutuskan ke Jakarta mengikuti seleksi calon anggota Polri. Dia termotivasi oleh temannya yang masih satu kampung halaman di Padang Pariaman dan lolos ujian menjadi calon anggota Polri.
“Saya tidak lolos ujian karena tidak fokus. Tidak ada persiapan, badan tidak bugar. Tapi saya tidak terlalu menyesal, waktu itu saya ingin ngejar status. Sebenarnya cita-cita sewaktu kecil, saya ingin punya bengkel. Makanya saya masuk SMK,” kata Albet kepada Okezone.com ditemui di tokonya, belum lama ini.

Albetrianto, pemilik Toko Photocopy & ATK Para Mande. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Albet kemudian memutuskan untuk berdagang di pasar pagi Jatinegara. Dia jualan sandal, kerja sama dengan seorang teman.
“Saya ada modal sedikit, jadi bergabung dengan teman yang punya usaha sandal. Cuma tidak berlangsung lama, hanya bulan Ramadan saja,” kata ayah dari tiga anak ini.
Selanjutnya, Albet memilih bekerja sebagai karyawan di toko sandal. Toko tersebut jualan sandal untuk dewasa dan anak.
“Kerja selama 1,5 tahun. Saya dapat uang makan Rp15.000 dan tempat tinggal juga. Untuk gaji diberikan setiap hari, tergantung hasil penjualan. Saya diberi 10 persen dari total penjualan setiap hari,” ujarnya.
Selama menjadi karyawan, kata Albet, banyak pelajaran yang didapatkan. “Kita belajar tekun, usaha mengembangkan modal, cara melayani orang, dan menentukan harga produk agar tetap bersaing. Tidak harus murah, minimal sama dengan lainnya,” kata Albet.
Merasa cukup bekerja di toko sandal, Albet memutuskan membantu usaha sang kakak jualan nasi padang di kawasan Ampera.
“Selama empat bulan usaha nasi, kakak membuka usaha lagi. Saya meneruskan usahanya, namun cuma beberapa bulan. Tempatnya kena gusur. Waktu itu pembelinya sudah banyak dari sopir taksi,” ucapnya.
Saat jualan nasi padang, kata Albet, dirinya sudah mempunyai dua karyawan. Mereka masih sanak saudara dari kampung halaman.
“Asyiknya jualan nasi padang, makan kita sudah jelas. Lalu ada tempat tinggal dan punya karyawan, jadi saya agak bebas. Uangnya juga lumayan. Sehari untungnya bisa Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Jumlah segitu waktu itu besar,” kata Albet.
Lantaran kena gusur, Albet memilih untuk membeli kios di kawasan Cikini seharga Rp20 juta. Dia membuka lagi usaha nasi padang. Namun, usahanya tidak jalan karena sepi pembeli.
“Saya gagal, salah perhitungan karena tempatnya sepi. Saya benar-benar down, karena usaha tidak ada dan nganggur. Saya coba kontrakin ke orang, namun sama juga masih sepi. Lalu, saya jual lagi tempat itu. Kiosnya laku Rp15 juta,” ucapnya.
Untuk menyambung hidup, Albet menjajal menjadi sopir angkot. Harapannya, uang yang didapat bisa buat makan. Itu berlangsung selama enam bulan.
“Saya lalu ikut kakak ipar menjalankan usaha fotokopi sekalian belajar. Selama empat bulan, saya belajar banyak. Baru kemudian saya buka sendiri. Usaha ini tidak begitu repot,” katanya.
Akhirnya Albet mencari tempat yang bisa dipakai untuk usaha fotokopi. Tempatnya memang tidak luas, namun ramai. Lokasinya dekat dengan kos-kos mahasiswa Trisakti dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
“Berkat usaha fotokopi, saya bisa membeli toko di kawasan Cengkareng. Tokonya saya kontrakin,” ucapnya.
Lambat laun usahanya berkembang, namun Albet merasa tokonya sempit sehingga membuat karyawannya tidak betah. Dia lalu memutuskan pindah ke tempat yang lebih luas.
“Ada pelanggan fotokopi yang menawarkan tempatnya kosong. Dulu bekas butik. Saya pindah ke sini 2015 dan bertahan sampai sekarang. Tempat ini masih masih kontrak,” katanya.
Setahun menjalankan usaha fotokopi dan alat tulis kantor (ATK), Albet mulai menjadi mitra PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dengan menjadi Agen BRILink.
Albetrianto, pemilik Toko Photocopy & ATK Para Mande. (Foto: Tuty Ocktaviany)
“Setahun di sini, saya ditawari menjadi Agen BRILink. Manfaatnya banyak, bisa melayani orang melakukan transaksi ke semua bank. Bisa bayar cicilan dan angsuran, listrik dan beli pulsa juga,” ucapnya.
Selama delapan tahun menjadi Agen BRILink, Albet mengaku tidak hanya mendapatkan keuntungan dari sisi materi. Menurutnya, setiap bulan bisa mendapatkan keuntungan yang sama dari Agen BRILink seperti usaha fotokopi dan ATK.
Albet bersyukur atas pencapaiannya sekarang dan ingin membahagiakan orangtua. Sosok ibu menjadi inspirasinya.
“Sosok ibu di mata saya sebagai panutan. Saya nangis. Susah, ngomongnya. Nangis saya. Ibu inspirasi saya,” ucap Albet menangis ingat sosok ibu di kampung.
Albet cerita, sang ibu saat ini tinggal sendiri di Padang Pariaman. Ayahnya sudah meninggal setahun lalu. “Saya dekat sama ibu. Ibu pernah ke Jakarta dan bangga melihat saya,” katanya.
Kesejahteraan Masyarakat Meningkat Berkat Agen BRILInk
Pimpinan Cabang KC Jakarta Rawamangun Rahardian Umar Dani mengatakan, Agen BRILink mempunyai peran yang sangat penting sebagai agen iklusi keuangan BRI.
“Dengan banyaknya Agen BRILink, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena adanya sharing fee yang diberikan oleh BRI sebanyak 50 persen,” tutur Rahardian Umar Dani kepada Okezone.com, ditemui di KC Cabang Rawamangun, Jakarta, Jalan Pemuda Kav 79 A, Rawamangun, Jakarta, baru-baru ini.
Pimpinan Cabang KC Jakarta Rawamangun Rahardian Umar Dani. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Selain itu, kata Dani, bisa meningkatkan financial inclusion. Sehingga dengan adanya banyak Agen BRILink, bisa menjangkau banyak masyarakat yang belum bankable.
“Saat ini di Kanca Rawamangun, terus melakukan pemaksimalan Agen BRILink yang sudah berjalan. Total Agen BRILink sebanyak 1.831 agen, tercatat pada 29 Februari 2024,” ucap Dani mengatakan Kanca Rawamangun memiliki 11 unit.
Untuk membantu meningkatkan transaksi di masing-masing Agen BRILink, Dani menerapkan strategi khusus. Salah satunya, selektif dalam melakukan akuisisi Agen BRILink, yakni mengoptimalkan pipeline yang telah di-share oleh Regional Office dan Kantor. Selain itu, dapat mengoptimalkan potensi wilayah masing-masing, misalnya melakukan akuisisi di lingkungan padat penduduk maupun pasar, serta lokasi lainnya yang belum terdapat Agen BRILink di dalamnya.
“Melakukan pembinaan kepada Agen BRILink dalam rangka peningkatan transaksi, baik secara onsite dan offsite. Juga memastikan bahwa materi komunikasi Agen BRILink telah terpenuhi dan terpasang sesuai standar, sehingga masyarakat di lingkungan Agen BRILink dapat terinformasi dengan baik dan melakukan transaksi di Agen BRILink tersebut,” tuturnya.
Tidak berhenti di situ, Dani dan tim BRI terus melakukan edukasi ke Agen BRILink untuk mengoptimalkan penggunaan fitur transaksi di aplikasi atau Electronic Data Capture (EDC) BRILink.
“Kami juga senantiasa melakukan sosialisasi program pemasaran yang sedang berlangsung, baik program lokal maupun nasional,” ucapnya.
Nah, tertarik ingin menjadi agen BRILink seperti Albetrianto? Berikut ini panduannya, seperti dikutip dari laman resmi Bank BRI.
1. Belum menjadi agen dari bank penyelenggara Laku Pandai
2. Memiliki surat keterangan legalitas usaha (sekurang-kurangnya dari perangkat desa) atau SK pengangkatan pegawai tetap atau SK pensiunan
3. Memiliki sumber penghasilan dari kegiatan usaha dan atau kegiatan tetap lainnya minimal dua tahun
4. Memiliki rekening simpanan berkartu di Bank BRI, menyetor uang jaminan sebesar Rp3 juta dan saldo tersebut diblokir selama menjadi agen
5. Memiliki rekening pinjaman di Bank BRI (tanpa harus menyetor uang jaminan) dengan kolektibilitas lancar selama enam bulan terakhir.
6. Pengajuan agen dapat berbentuk perseorangan atau instansi berbadan hukum.
Lantas, bagaimana prosesnya menjadi agen BRILink?
1. Kelengkapan identitas
2. Menjadi nasabah BRI
3. Melengkapi surat izin usaha
4. Pengisian formulir dan proses berkas di uker BRI
5. Proses instalasi perangkat agen BRILink
6. Agen siap melayani.
(Tuty Ocktaviany)