KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) telah mencatat telah ditemukan sebanyak 5.461 kasus flu Singapura di Indonesia sejak Januari hingga Maret 2024. Penyakit yang juga disebut Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) ini juga telah dikonfirmasi di beberapa wilayah seperti Provinsi Banten dan Kota Depok.
Ahli Paru sekaligus Anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI, Prof. Erlina Burhan menjelaskan bahwa flu Singapura paling sering menyerang anak-anak. Tak cuma itu, semakin rendah kondisi sosial ekonominya anak dan balita tersebut, maka semakin cepat pula kemungkinan untuk terinfeksi flu Singapura.
Sedangkan untuk penyebaran dari virus coxsackie yang memicu flu Singapura ini umumnya melalui kontak langsung dengan air liur atau lendir pasien yang terinfeksi. Prof. Erlina mengungkap bahwa virus flu Singapura ini juga bisa ditularkan melalui feses atau tinja pasien flu Singapura.
“Jadi juga bisa ditemukan di feses ya dan bisa bertahan di feses beberapa minggu dan tentu saja berperan sebagai sumber virus dalam jangka waktu yang cukup lama,” kata Prof. Erlina Burhan dalam Webinar PB IDI, belum lama ini.

Sehingga apabila salah satu anggota keluarga membersihkan feses anak yang mengidap flu Singapura dan tak langsung mencuci tangan dengan bersih, maka virusnya bisa menular. Terlebih jika setelahnya, langsung makan dalam kondisi tangan yang masih ada virus coxsackie tersebut.
“Jadi biasanya pada saat cebok, cuci tangannya tidak bersih atau mungkin orang lain yang merabanya ya, mungkin dari pampers atau lain sebagainya,” ujar Prof. Erlina.
Prof. Erlina menyatakan kalau virus coxsackie ini umumnya ditemukan di permukaan air, limbah, dan tanah. Bahkan virus ini juga bisa ditemukan pada sayuran mentah dan juga kerang dari laut yang terkontaminasi lho.
“Ini kemudian tangan tidak bersih dicuci lalu pegang makanan masuk ke mulut, dan inilah yang kemudian bisa menemukan terjadi penularannya dimana virus ini ditemukan biasanya pada permukaan air, bisa pada limbah pada tanah dan juga pada sayuran mentah dan juga kerang,” tuturnya.
Menurut Prof. Erlina, penularan utama virus ini memang melalui makanan dan kotoran manusia dalam bentuk droplet ketika batuk, bersin dan berbicara. Hal ini dikenal dengan istilah fekal-oral. Selain itu flu Singapura juga bisa menular lewat kontak langsung dengan luka atau cairan tubuh penderita.
“Bisa terjadi kontak langsung karena ada luka dan cairan tubuh penderita. Semakin buruk sanitasi maka semakin tinggi tingkat kontaminasi dan laju infeksi,” tuturnya.
Maka dari itu, di tengah melonjaknya kasus flu Singapura ini, sebaiknya para orangtua menjaga imunitas tubuh dan higienitas diri dan juga si kecil yang berpotensi tertular flu Singapura ini.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.