KASUS Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini terus mengalami peningkatan. Tercatat per 1 Maret 2024 terdapat hampir 16.000 kasus DBD di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan 124 kematian.
Kasus DBD banyak ditemukan pada wilayah seperti Tangerang, Bandung Barat, Kota Kendari, Subang, dan Lebak. Keadaan ini diperkirakan terus berlanjut sampai dengan April 2024 dengan musim hujan setelah El nino.
Terkait hal tersebut Dokter sekaligus Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr Ngabila Salama menjelaskan penyebab kasus ini terus meningkat karena adanya beberapa faktor perilaku masyarakat yang tidak melakukan upaya pencegahan DBD.
“Kemungkinan faktor perilaku masyarakat yang tidak melakukan upaya pencegahan PSN 3M Plus di 9 tatanan kota sehat. Jadi tidak hanya PSN 3M Plus di rumah tetapi juga di tempat umum lainnya seperti Sekolah, Kantor, Fasilitas Umum, Transportasi, Pariwisata, Rumah Ibadah, dan lain-lain,” kata Ngabila, dalam keterangan resminya, Rabu (27/3/2024).

Bukan cuma itu, Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari Jakarta itu juga mengatakan kalau cuaca ekstrim juga berpengaruh dalam perkembangbiakan telur-telur nyamuk sehingga dia mudah menetas di saat terjadinya musim hujan.
“Juga ada pengaruh cuaca ekstrem. Kemarau lalu hujan ini akan membuat telur nyamuk mudah menetas dan musim hujan dengan kelembaban udara tinggi/RH/relative humidity akan meningkatkan populasi nyamuk,” ucap Ngabila.
Maka dari itu sebagai antisipasi memuncaknya kasus DBD di April mendatang, Ngabila menuturkan penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) perlu dilakukan, meskipun disisi lain kegiatan pencegahan sakit seperti PSN 3M Plus vaksinasi, Gerakan 1 Rumah 1 Kader Jumantik (G1R1J) dan deteksi dini juga perlu diterapkan.
“Antisipasi puncak kasus DBD April 2024, perlu penguatan FKTP utamanya Puskesmas dalam tatalaksana awal kasus DBD, refreshing tatalaksana kasus terutama rehidrasi cairan,” tutur Ngabila.