WISATA berbasis olahraga atau sport tourism merupakan salah satu pasar di sektor pariwisata yang terus tumbuh terutama pascapandemi.
Berdasarkan data, wisata olahraga menyumbang sekitar 10 persen terhadap belanja pariwisata global dan diperkirakan tumbuh sebesar 17,5 persen dari tahun 2023 hingga 2030.
Sementara di Indonesia potensi sport tourism pada 2024 diperkirakan bisa mencapai Rp19 triliun.
Hal tersebut ditopang oleh potensi alam yang indah, kontur alam yang bervariasi, serta wilayah yang luas serta ragam budaya dan keramahan masyarakat menjadikan Indonesia sangat tepat dalam penyelenggaraan sport tourism.
Namun, Pengamat Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta, Asep Kamaluddin Nashir menilai fokus pengembangan olahraga di Indonesia hanya dewasa ini baru sebatas pembinaan atlet.
Indonesia menurutnya harus bisa belajar dari Korea Selatan (Korsel), dan Thailand maupun negara lain yang mengembangkan potensi devisa dari sektor olahraga.
“Maksud potensi pariwisata di sini bukan hanya pada pagelaran akbar seperti penyelenggaraan Asian Games 2018, SEA Games 2011, Piala Dunia U-17 2023, maupun Piala Dunia Basket 2023 melainkan kegiatan olahraga lain yang dilakukan secara rutin per tahun. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu tuan rumah kejuaraan bergengsi tahunan, seperti: Grand Prix MotoGP, Indonesia Open, Bali Marathon, Tour de Singkarak, World Surf League, dan lainnya,” ungkap Asep dalam keterangannya kepada Okezone, Sabtu (16/3/2024).

Kejuaraan F1 Powerboat Danau Toba (Foto: MPI)
Melihat potensi tersebut, Indonesia lanjut Asep, seharusnya mengembangkan konsep sport tourism atau penyelenggaraan kegiatan olahraga yang dipadukan dengan promosi pariwisata. Menurut dia, Indonesia telah mulai berupaya mengembangkan sport tourism.
“Upaya mengembangkan sport tourism sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Pada tahun 2023, pelaksanaan MotoGP di Mandalika berhasil menyumbang perekonomian sebesar Rp4,5 triliiun," terangnya.
"Sebuah angka yang fantastis tentunya untuk sebuah pagelaran yang tidak memakan waktu lama. Begitupula dengan pelaksanaan Piala Dunia U-17 yang diduga terjadi perputaran uang sebesar Rp1,02 triliiun,” tambah Asep.
Namun, dirinya mengkritik pengembangan sport tourism di Indonesia saat ini. Menurut Asep, saat ini sport tourism dibawahi oleh tiga kementerian. Sehingga menyulitkan panitia pelaksana untuk mengurus semua keperluan.
“Sayangnya siapakah wakil pemerintah yang menjadi pemimpin dalam isu ini belumlah jelas dan bersifat sektoral. Untuk persoalan pariwisata akan diberikan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), sedangkan hal-hal yang menyangkut olahraga diserahkan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Belum lagi jika berurusan dengan aspek promosi budaya diarahkan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) atau produk-produk kreativitas yang diwadahi oleh Kementerian Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kemenkop-UMKM),” tutur Asep.