SAMSURI tidak membayangkan bisa sukses seperti sekarang. Kehidupannya yang susah dari sopir angkot, membuatnya gigih bekerja keras hingga mempunyai usaha dan diberi kepercayaan jadi Agen BRILink.
Lulus sekolah madrasah di Jombang, Samsuri memilih untuk mengadu nasib di Ibu Kota. Dia sebatang kara, nekat mencari pengalaman dan pendapatan tambahan.
Dia kemudian ditawari menjadi sopir angkot jurusan Tanah Abang – Kebayoran, 1994 lalu. Pekerjaan itu dia jalani sampai 25 tahun.
“Saya kerjanya sehari bisa 12 jam. Mulai kerja dari pukul 23.00, lalu istirahatnya jam 11.00. Waktu saya buat kerja dan kerja, tidak ada kesempatan nongkrong,” ucap Samsuri ditemui Okezone.com di Toko Fotocopy Mandiri miliknya, Kampung Baru, Sukabumi, Jakarta Barat, belum lama ini.

Samsuri tetap hidup sederhana meski sukses jadi Agen BRILink. (Foto: Tuty Ocktaviany)
“Penumpang saya kebanyakan tukang sayur. Saya sopir sekaligus bantu-bantu turunkan sayuran mereka, juga angkat karung. Semua saya lakukan sendiri. Itu bentuk pelayanan saya ke mereka. Hasilnya, mereka suka membayar lebih,” kata pria asal Tegal ini.
Jerih payah Samsuri membuahkan hasil. Pendapatan dari sopir angkot, lumayan bisa disisihkan.
“Kerja angkot dulu lumayan. Sehari bisa setoran Rp150 ribu untuk bos, itu di luar bensin. Penghasilan bisa lebih dari itu. Sebulan bisa dapat Rp1,5 juta lebih,” kata ayah dari tiga anak ini.
Berkat penghasilan yang cukup, Samsuri lalu punya niat membeli mikrolet sendiri. Dia kemudian berinisiatif meminjam ke Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Saya beli mikroletnya seken. Waktu itu saya dapat pinjaman dari BRI, lalu sisanya dari hasil gadaikan sawah mertua ke tetangga. Setahun sudah lunas sawahnya,” kata Samsuri.
Selama 10 tahun menjalankan mikrolet punya orang lain, akhirnya Samsuri bisa punya sendiri. Dia ingin tidak selamanya jadi kuli.
Seiring waktu berjalan, dia melihat ada peluang bisnis fotokopi. Kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakannya, ada yang mau jual mesin fotokopi.
“Saya tertarik membelinya. Kebetulan orang itu juga masih sisa dua bulan kontrakannya, jadi saya yang meneruskan. Saat itu, usaha saya jalankan bersama istri. Tapi saya tidak meninggalkan kerja sebagai sopir angkot,” ucapnya yang belajar secara otodidak.
Samsuri dan istri, Rumiyati semangat kerja demi mengubah nasib menjadi lebih baik. Mereka membuka jasa fotokopi dari pukul 07.00 sampai jam 02.00 dini hari.
“Bapak ibu saya hidup susah. Adik saya delapan orang. Saya ingin jadi contoh buat adik-adik saya. Saya tidak pernah nongkrong. Bisanya kerja, kerja dan kerja terus. Paling saya berusaha jaga kesehatan,” katanya.
Perkenalannya dengan mantri BRI, membuat rezeki Samsuri terbuka luas. “Waktu itu ada mantri BRI yang main ke toko karena saya nasabah dan menawari menjadi Agen BRILink. Saya menyetujui, alhamdulillah ada yang menawari,” ucapnya.
Samsuri tiga tahun saja mengontrak lokasi usaha fotokopi. Dia lalu pindah ke lokasi lain, tidak jauh dari tempatnya semula.