STIMULASI pijat untuk bayi memiliki segudang manfaat. Selain menciptakan kedekatan antara ibu dan anak, stimulasi sensorik, perkembangan fisik, hingga meningkatkan kualitas tidur.
Lantas usia berapa idealnya anak boleh melakukan pijat?
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Fitri Hartanto, SpA(K), menjelaskan menurut data dari Kementerian Kesehatan, stimulasi pijat bisa dilakukan sejak bayi baru lahir.
"Usia termuda melakukan pijat bayi saat usia awal bayi lahir hingga usia dua hingga tiga tahun," ujar dr Fitri dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan topik 'Pijat Bayi dan Anak, Amankah?', baru-baru ini.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri menyarankan anak diberikan stimulasi pijat pada seribu hari pertama anak dilahirkan. Sementara itu untuk batasan usianya maksimal sampai tiga tahun.

"Setelah usia tiga tahun ada literatur yang menunjukkan bahwa ada kasus-kasus pelecehan terhadap anak yang dilakukan stimulasi pijat oleh tenaga pemijat. Untuk itu karena kita harus melindungi anak dan mengoptimalkan rangkaian seribu hari pertama kehidupan anak, maka kita batasi stimulasi pijat itu diberikan di usia balita," tuturnya.
Kemudian dr Fitri menyarankan stimulasi pijat sendiri dilakukan satu sampai dua kali sehari. Dan sekurang-kurangnya tiga kali dalam seminggu.
"Semakin banyak kontak antara orang tua dan anak, maka bondingnya makin erat, dan anak merasa diperhatikan oleh orangtuanya. Kalau tidak memungkinkan sehari sekali boleh, minimal seminggu tiga kali, agar orang tua bisa lebih dekat dengan anak ketika melakukan stimulasi pijat bersama," katanya.
Namun saat melakukan stimulasi pijat juga ada beberapa hal yang orangtua harus perhatikan, salah satunya soal kesiapan orang tua dan bayi itu sendiri. Bila salah satu tidak siap sebaiknya jangan diberikan stimulasi.