Sementara, Drasthya Wironegoro mengaku senang atas kedatangan Alam di Kraton tersebut. Dirinya menerima dengan senang hati Alam Ganjar yang merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Tentu, menurut Wironegoro, keraton bukan tempat yang asing bagi Alam.
"Yang pasti senang ya karena mau berwisata, anak UGM juga, siapa tahu bisa ngajak temen lain yang belum pernah ke keraton untuk berwisata, selalu diterima pastinya," ujar Wironegoro.
Sekadar informasi, Keraton Yogyakarta berdiri pada 1755 sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti. Keraton Yogyakarta sebagai cikal bakal keberadaan pemukiman di wilayah Yogyakarta meninggalkan jejak sejarah yang masih sering jumpai sampai saat ini.
(Foto: MNC Media)
Kawasan ini merupakan living monument, yang masih hidup dan dubuktikan dengan ditetapkannya kawasan keraton sebagai salah satu kawasan cagar budaya di Yogyakarta berdasar SK Gubernur Nomor 186/2011 meliputi wilayah dalam benteng Baluwarti (Njeron Benteng) dan sebagian wilayah di Mantrijeron, Mergangsan, Gondomanan sampai Ngampilan.
Kemudian pada 2017 terbit Peraturan Gubernur Nomor 75/2017 yang menggabungkan kawasan cagar budaya Malioboro dan dalam benteng keraton (Baluwarti) menjadi satu kawasan yaitu Kawasan Cagar Budaya Keraton, yang membujur dari Tugu sampai Panggung Krapyak.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.