PENGKHIANATAN menjadi hal lazim yang kerap terjadi dalam sejarah berbagai kerajaan di Nusantara. Salah satunya ialah Kerajaan Islam Mataram. Tumenggung Endranata, begitulah namanya.
Jasadnya dimutilasi hingga tiga bagian lantaran nekat mengkhianati Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung.
Kisah tragis itu bermula dari upayanya mengadu domba Sultan Agung dan Adipati Pragola II, sang penguasa Pati yang masih memiliki hubungan saudara.
Tumenggung Endranata menyatakan bahwa Pragola akan memberontak. Sultan Agung yang terhasut dengan orang kepercayaannya itu lantas mengambil langkah menyerang Pati. Serangan dipimpin langsung oleh Sultan Agung.
Sultan Agung (Foto: YuncuingART)
Sultan Agung mengatur pasukan di bagian depan, sedangkan bagian tengah oleh Adipati Martalaya. Adipati Martalaya membawa pasukan dari Madura, Kedu, Bagelan, dan Pamijen.
Saat pasukan Pragola menyerang, Sultan Agung membunyikan gong pusaka Kyai Bicak. Namun tak berbuah hasil, serbuan Pragola semakin menjadi-jadi. Pasukan Sultan Agung mundur, lalu dia memberikan tombak pusaka Kyai Baru kepada lurah dari kapendak, Naya Derma.
Sultan Agung kembali manggaungkan gong saktinya. Tombak yang diberikan ke Naya Derma tepat sasaran mengenai Pragola, insiden berdarah pun terjadi.

Komplek Pemakaman Imogiri (Foto: Instagram/@mr.adisurya)
Setelah berhasil memprovokasi Sultan Agung, kelicikan Tumenggung Endranata tidak berhenti sampai di situ. Ia juga membeberkan rencana penyerangan ke Jayakarta.
Pada tahun 1628, Sultan Agung merasa hasil bumi dan peraturan para petani dimonopoli oleh VOC. Dia pun berniat menjatuhkan VOC melalui peperangan. Sayangnya, serangan pertama Kerajaan Mataram dipukul mundur karena kekurangan pasokan bahan pangan.
Belajar dari kesalahan, Sultan Agung menyiasati taktik peperangan dengan mempersiapkan lumbung makanan yang tersebar di beberapa tempat. Posisi lumbung ini dirahasiakan dan hanya diketahui oleh tangan kanannya saja.