MAKANAN bergizi kerap identik dengan rasanya yang kurang lezat. Pasalnya, makanan tersebut dibuat dengan membatasi gula, garam, penyedap, dan bumbu lainnya. Masyarakat pun kerap dibuat pusing untuk memutar otak dalam membuat asupan yang disukai namun tetap bergizi tinggi.
Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto, M. Sc., Guru Besar di bidang mikrobiologi dan bioteknologi molekuler mengungkapkan bahwa hal tersebut memang menjadi tantangan bukan hanya bagi ahli gizi melainkan disiplin ilmu lainnya agar masyarakat tetap bisa merasakan kenikmatan saat menyantap makanan bergizi.
Belum lagi belakangan ini digaungkan pula pesan untuk memastikan proses produksi makanan harus memperhatikan aspek berkelanjutan dengan menerapkan proses yang ramah lingkungan.

"Saat ini, salah satu tantangan di bidang nutrisi adalah bagaimana bisa menghasilkan makanan yang bergizi, enak, dan tetap memperhatikan aspek berkelanjutan atau ramah lingkungan," kata Prof Antonius dalam acara NRC Summit 2024 bersama Nutrifood, Rabu (17/1/2024).
Aspek teknologi pangan pun bekerja untuk menciptakan makanan dengan memperhatikan kelezatan dan proses produksi yang ramah lingkungan
"Dalam menjawab tantangan yang ada, baik di aspek lingkungan, sosial, dan lainnya, diperlukan kerja sama dan dukungan lintas sektoral, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga swasta, demi tercipta kolaborasi yang solid, melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi," katanya.
Dia pun mencontohkan bahwa saat ini mulai diterapkan teknologi untuk membuat garam dan pemanis tetap terasa asin dan manis meski dikurangi jumlah penggunaanya agar rasa makanan tak menjadi hambar.