BERBAGAI penyakit telah menyerang Indonesia sepanjang 2023. Penyakit ini terus bermutasi sehingga lebih cepat menular di masyarakat. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Indonesia masih bisa mengendalikan penyakit ini dengan sangat baik.
Lantas apa saja penyakit yang menyerang Indonesia sepanjang 2023? Merangkum dari berbagai sumber, Selasa (26/12/2023) berikut ulasannya.
1. Covid-19
Kasus Covid-19 sempat melandai pada awal 2023. Bahkan Presiden Joko Widodo memutuskan status pandemi Covid-19 berubah menjadi endemi mulai Rabu 21 Juni 2023. Jokowi menjelaskan bahwa alasan pemerintah memutuskan status endemi saat ini dikarenakan angka konfirmasi harian Covid-19 mendekati nihil.
Sayangnya menjelang akhir tahun kasus Covid-19 di dunia kembali melonjak akibat varian anyar dengan kode JN.1. Varian ini menyebabkan lonjakan kasus di sejumlah negara, salah satunya Singapura yang merupakan tetangga terdekat Indonesia.

Diprediksi puncak Covid-19 terjadi pada Januari 2024 akibat mobiltas masyarakat yang tinggi pada saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
2. Leptospirosis
Pada awal 2023, Indonesia juga sempat dilanda wabah leptospirosis akibat curah hujan yang tinggi. Dari data yang dipaparkan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Semarang, Dr. dr. Muchlis Achsan Udji Sofro SpPD KPTI MKM FINASIM.
Jumlah kasus leptospirosis sejak Januari sampai Febuari 2023 terlapor sudah 23 kasus dan enam angka kematian. Melihat terus munculnya kasus di masyarakat, dr. Muchlis mengingatkan, penyakit leptospirosis pada dasarnya bisa terjadi mana saja.
Mengingat penyakit satu ini bisa menyerang usia manapun, anak-anak hingga orang dewasa, dr. Muchlis mengimbau setiap orang harus melakukan upaya pencegahan agar tidak terinfeksi leptospirosis. Mulai dari kebersihan diri sendiri, keluarga hingga lingkungan.
3. Penyakit Infeksi Pernapasan Akibat Polusi
Pada Agustus 2023, kualitas udara di DKI Jakarta dan sekitarnya sangat mengkhawatirkan. Tingkat polusi menunjukkan angka 102 dengan status tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Tak sedikit masyarakat mengalami batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, dan lain-lain akibat efek polusi udara. Jika dibiarkan terus menerus, polusi udara ini bisa memicu kanker paru-paru. Terkait hal tersebut, Dokter Spesialis Paru, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, SpP (K) menuturkan polusi udara menjadi salah satu dari 10 pemicu terjadinya kanker paru.
Bahkan menurut penelitian yang diterbitkan oleh Nature, PM 2.5 tersebut diaktifkan sendiri oleh gen onkogen yang berpengaruh dalam pembentukkan awal suatu tumor, yakni gen EGFR. Untuk itu, melakukan skrining untuk kesehatan sangat perlu dilakukan. Karena semakin dini gejala ditemukan, maka semakin mudah untuk disembuhkan.
4. Cacar Monyet
Masih pada Agustus 2023, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan kasus cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) pertama di Tanah Air. Kasus pertama tersebut ditemukan di DKI Jakarta berjenis kelamin pria dan berusia 27 tahun.
Gejalanya diawali dengan demam dan pembesaran kelenjar getah bening di belakang leher. Lalu, disusul muncul lesi di wajah yang kemudian menyebar ke telapak tangan, kaki, dan sebagian ada di sekitar alat genital.
Mirisnya, sekitar 84,3 persen pasien cacar monyet didominasi laki-laki yang melakukan kontak seksual dengan sesama jenis. Sebanyak 6,5 persen teridentifikasi sebagai biseksual. Hal ini diungkapkan Pakar Dermatologi dr Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., Subsp. Ven.,FINSDV, FAADV.
5. Mycoplasma Pneumonia
Penyakit pneumonia yang semua beredar di negara China menimbulkan kekhawatiran kepada Tanah Air, karena sebagian besar menyerang kalangan anak-anak. bahkan dikabarkan pasien tersebut semakin mengalami lonjakan hingga satu orang dokter bisa menangani 180 pasien dalam satu shiftnya.
Lebih lanjut, akhirnya kekhawatiran masyarakat pun terjadi. Menurut laporan 5 Desember 2023 sebanyak tiga orang anak di Jakarta terinfeksi mycoplasma pneumonia dengan gejala ringan yaitu sesak nafas dan melakukan rawat jalan.
Laporan kasus ini pertama kali datang dari salah satu rumah sakit swasta yang melihat gejala klinis pasien mengarah kepada mycoplasma pneumonia. Akhirnya ketiga anak itu dilakukan PCR untuk mengetahui spesifik kuman penyebab pneumonia untuk memberikan terapi lebih spesifik dan mencegah resistensi antibiotik karena digunakan berlebihan.
Pemeriksaan ini dilakukan secara mandiri atau berbayar, sehingga pasien tidak diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Selanjutnya, kasus ini sempat mengalami peningkatan hingga korban naik menjadi enam pasien. Namun, dikabarkan pasien kini telah sembuh semua dan sudah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Untuk itu, Kemenkes memberikan imbauan kepada masyarakat agar melakukan pencegahan berupa menjaga perilaku hidup bersih, imunisasi rutin, dan mengonsumsi antibiotik sesuai dengan resep dokter.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.