DANAU Tempe, kerap menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan. Danau ini diketahui sebagai salah satu danau purba yang ada di Indonesia, selain Danau Toba, Danau Matano, maupun Danau Towuti.
Danau Tempe adalah danau tektonik yang terbentuk akibat adanya pergeseran lempeng beberapa tahun yang lalu sebelum masehi.
Sebagian sumber menyebutkan bahwa Danau Tempe terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu pada kala holosen.
Tak sekadar memiliki sejarah yang panjang, panorama yang ditawarkan di sekitar Danau Tempe ini cukup menawan.
Terlebih di beberapa waktu-waktu tertentu, seperti saat sunset atau menjelang tenggelamnya matahari. Perpaduan warna langit yang indah dengan hamparan perairan Danau Tempe, jadi pemandangan yang tak menjemukan.
1. Lokasi
Danau Tempe secara administratif terletak di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan atau 7 kilometer dari Sengkang.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke danau Tempe, bisa datang ke danau ini kapan saja karena tidak ada waktu operasional tertentu alias buka selama 24 jam.
(Foto: Instagram/@sabriumar1)
2. Sejarah Danau Tempe
Perlu diketahui bahwa danau Tempe terbentuk pada waktu yang bersamaan dengan daratan Sulawesi, yang ada di atas lempeng Australia dan Asia. Area danau ini cukup luas, yaitu sekitar 350 kilometer persegi.
Bahkan luasnya mencakup ke dalam tiga kabupaten, Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dan Kabupaten Soppeng.
Tak heran, apabila danau ini menyandang predikat sebagai danau kedua di Sulawesi setelah Danau Poso yang ada di Sulawesi Tengah.
Danau ini terjadi akibat pergerakan tektonik yang disebabkan oleh sesar Bongkar dan sesar Geser, kemudian wilayah danau tempe dan sekitarnya melahirkan peradaban bercorak akuatik yang berdampingan dengan peradaban yang bercorak agraris.
3. Asal mula nama Tempe
Awalnya, danau ini bernama Danau Cempe yang berarti kacang polong. Di mana warga sekitar menanam tanaman cempe, ketika air sedang surut.
Namun, tidak diketahui secara pasti apa yang mendasari perubahan nama menjadi ‘Tempe’. Sebagian warga menuturkan bahwa, hal ini karena ditemukan ada banyak jenis tempe di daerah sekitarnya.
Debit air pada Danau Tempe sangat bergantung pada musim. Jika musim penghujan tiba, maka airnya akan lebih banyak dan tinggi bahkan bisa membanjiri daerah di sekitarnya.
Sedangkan saat musim kemarau tiba, kawasan danau akan terbagi menjadi beberapa danau yaitu danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Tappareng Lapompakka (Danau Buaya).