KASUS demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi hal yang menakutkan di Indonesia. Pada 2023 terdapat 571 kasus kematian dari Januari hingga November. Meskipun angka ini jauh menurun dari 2022, namun jumlah ini tetap tinggi.
Alhasil masalah demam berdarah ini membutuhkan suatu inovasi untuk mengurangi angka kejadian maupun kematian pasien. Salah satunya dengan mengendalikan penyakit DBD tersebut.
Terkait hal tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI dr Maxi Rein Rondonuwu mengatakan penanganan strategi demam berdarah selama ini masih belum cukup. Sehingga ketika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah selalu jadi sasaran dinas kesehatan.

"Indikasi kalau belum difogging katanya belum kerja, padahal fogging sangat berbahaya karena kimia yang diberikan bisa merusak lingkungan dan resistensi nyamuk terhadap bahan kimia akan semakin tinggi," ujar dr Maxi dalam webinar bertajuk 'Mengatasi DBD dengan Wolbachia', Jumat (24/11/2023).
Dokter Maxi mengatakan pihaknya bangga karena Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan penelitian sejak 2011 sampai 2015 tentang inovasi penangan DBD lewat nyamuk wolbachia.
"Nyamuknya masih tetap aedes aegypti tapi sudah ditambah dengan bakteri wolbachia. Dan penelitian ini sudah dilakukan kajian hingga analisis risikonya dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia, dan hasilnya bagus sudah dicoba di Yogyakarta 5-6 tahun lalu, dan hasilnya sangat menggembirakan," tuturya.