PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk concern mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menciptakan produk yang bisa go global. Kualitas adalah tantangan bagi UMKM saat ini.
Gaung fashion Indonesia go global terus berkumandang. Semangat ini terus dijaga dan mendorong para pelaku industri fashion, termasuk UMKM menggali kreativitas agar bisa menciptakan produk berdaya saing tinggi.
Belakangan ini, industri fashion di Indonesia, khususnya modest fashion berkembang pesat. Modest fashion telah menjadi fenomena global dan salah satu kekuatan ekonomi yang signifikan di Indonesia.

Peluang inilah yang membuat para desainer hingga UMKM turut menggarap pasar tersebut, sambil menjalankan bisnis lain yang sudah ada. Mereka berlomba memproduksi koleksi busana dengan desain yang tidak biasa. Termasuk mengolah wastra dari berbagai daerah menjadi identitas produk modest fashion Indonesia, yang membedakan dengan negara lain. Ini sekaligus memberikan tawaran baru untuk pasar global.
Selain sarat makna dan budaya, wastra juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Menurut data Kementerian Perindustrian RI, ekspor wastra Nusantara, khususnya batik mencapai 64,56 juta dolar AS sepanjang 2022 dan diperkirakan mencapai 100 juta dolar AS pada 2023. Minat terhadap wastra Nusantara, khususnya batik berarti bagus dan mendunia.
Namun, tugas para desainer dan UMKM memang tidak berhenti pada bagian produksi saja. Mereka perlu mempromosikan karya mereka dan memperkuat branding. Itu yang sering menjadi kendala mereka selama ini.

Menurut National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma, dukungan para stake holder hingga perbankan sangat penting untuk keberlangsungan bisnis fashion dari para desainer dan UMKM.
“Peran perbankan memang sangat besar sekali, tidak sekadar permodalan seperti membantu sistem pembayaran. Lebih dari itu, bisa memberikan support. Terutama bagian memperkuat branding, harus diperhatikan juga,” tutur Ali Charisma kepada okezone.com di Jakarta, Senin (20/11/2023).