BELUM lama ini sebanyak 100 dokter di Israel telah melakukan penandatanganan petisi yang mendesak Israel Defence Force (IDF) untuk melakukan peledakan pada rumah sakit di Gaza terutama rumah sakit yang dijadikan tempat persembunyian Hamas.
Melansir dari laman Jordan Times, Rabu (8/11/2023) ratusan petugas kesehatan yang berbasis dari Asosiasi Profesional ke kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Amman melakukan protes atas serangan Israel di Gaza.
Petugas kesehatan yang berada disana pun mengutuk kejatan yang dilakukan bangsa Israel terhadap warga sipil di Gaza. Mereka menyerukan pembukaan perbatasan Rafah secara permanen sebagai cara untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan medis ke Gaza.
Tidak hanya itu, sambil membawa sebuah poster yang bertuliskan 'rumah sakit bukan target', 'Berhenti menembak sekarang', 'berhenti genosida', dan 'berhenti kejahatan perang terhadap Gaza', mereka juga tampak membawa foto petugas kesehatan yang telah gugur dalam tindakan Israel di Gaza selama tiga puluh hari terakhir.

“Israel menyerang konvoi ambulans yang mengangkut pasien terluka parah dari rumah sakit Al Shifa di Gaza ke perbatasan Rafah,” ucap Kementerian Kesehatan Gaza.
Bahkan dalam laporan selama beberapa hari terakhir, lewat serangan udara Israel telah menewaskan setidaknya 150 petugas kesehatan dan menghancurkan 27 ambulans. Namun, Kementerian juga mengungkapkan kalau sebanyak 16 rumah sakit dan 24 pusat perawatan primer di Gaza telah tidak beroperasi akibat serangan tersebut.
Media Israel pun baru-baru ini juga melaporkan sebanyak 100 dokter Israel telah menandatangani surat terbuka yang menyerukan tentara Israel mengebom rumah sakit di Gaza, dengan klaim Hamas menggunakan tempat tersebut.
Tidak terima dengan pernyataan itu, salah satu dokter pun melalui video mengutuk tindakan tersebut karena menganggap dokter Israel yang menandatangani surat itu telah mengkhianati profesi medis yang mulia dan memikul banyak tanggung jawab jika terjadi sesuatu pada rumah sakit di Gaza.
Melalui pernyataannya dia juga meminta kepada organisasi kesehatan dunia dan organisasi hak asasi manusia agar meminta pertanggung jawaban mereka yang telah menandatangani surat itu.
“Kami terus berkomunikasi dengan rekan kami di Gaza. Mereka bekerja dalam kondisi yang sangat mengerikan dan mereka yang tidak terbunuh telah kehilangan orang yang dicintainya,” kata Maha Fakhoury selaku Anggota Dewan di Asosiasi Medis Yordania (JMA).
Fakhoury mengatakan bahwa krisis kemanusiaan saat ini sedang berlangsung di Gaza, terutama di tengah kekurangan pasokan medis.
Sehingga hal itu berdampak kepada anak-anak yang terluka tanpa adanya pengasuh, sekitar 50 ribu ibu hamil juga tidak memiliki akses perawatan yang memadai akibat rumah sakit tidak beroperasi, bahkan operasi juga dilakukan di lantai rumah sakit tanpa adanya anestesi.
Untuk itu, JMA menyerahkan sebuah memorandum kepada kantor PBB di Yordania, dengan merinci semua kejahatan yang dilakukan Israel terhadap warga sipil di Gaza dengan harapan Israel dapat mempertanggungjawabkan di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional atas kejahatan peperangan yang dilakukannya.
JMA juga mengeluarkan pernyataan mendesak kepada dokter di Yordania untuk melakukan boikot terhadap sejumlah perusahaan farmasi yang mengumumkan dukungannya kepada Israel.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.