KASUS bulllying anak memang banyak terjadi, mirisnya bullying tersebut malah terjadi di tempat anak kita belajar, sekolah. Padahal, Sekolah merupakan instansi pendidikan tempat anak menuntut ilmu yang seharusnya jadi tempat teraman.
Terbaru, kasus perundungan di SMPN 2 Cimanggu, Cilacap, Jawa Tengah. Seorang kakak kelas tega menganiaya adik kelasnya dengan terang-terangan di tengah lapangan. Aksi ini ditonton oleh banyak murid lainnya. Tidak ada satupun yang melerai perundungan tersebut.
Tentu perundungan membawa dampak buruk bagi anak. Bukan hanya bagi korban, pelaku hingga penonton aksi perundungan memiliki dampak buruknya tersendiri.
“Bullying dampaknya luas baik pada korban, pelaku, maupun pada remaja yang menyaksikan,” kata Karina, M. Psi. saat dihubungi MNC.
Bagi korban yang dirundung dengan kekerasan fisik pasti akan mengalami luka disekujur tubuhnya. Seperti halnya yang terjadi pada korban perundungan di Cilacap. Korban mengaku mengalami sesak nafas setelah dipukuli oleh pelaku.
Namun, tanpa disadari sebenarnya korban juga mengalami luka batin yang tidak terlihat. “Pada korban bisa muncul rasa cemas, depresi enggak percaya diri," jelas dia.
Sementara pada siswa yang menyaksikan kejadian kekerasan tersebut akan memiliki rasa trauma tersendiri dalam dirinya. Mereka tidak mendapat kekerasan secara langsung dari pelaku, namun akan timbul rasa ketakutan dari apa yang dia lihat. “Pada yang menyaksikan, meskipun bukan pelaku dan bukan korban, juga bisa merasakan dampak. Dampaknya seperti rasa takut, kemarahan, rasa bersalah,” tutur Karina.
Rasa takut muncul pada seseorang yang menyaksikan perundungan karena dirinya takut akan menjadi korban selanjutnya. Kemarahan timbul akibat kekesalan akan tindak kekerasan yang dilakukan. Sementara rasa bersah muncul karena sebagai seseorang yang sudah mengetahui tindakan perundungan tetapi dirinya tidak dapat membantu korban sama sekali.
Terakhir, dampak perundungan bagi pelaku. Karina menyebutkan, jika pelaku didiamkan saja melakukan perundungan, maka akan ada tindak kenakalan lain yang dilakukannya di masa depan. Tidak menutup kemungkinan ada perundungan lain yang dilakukan pelaku. “Pada pelaku perundungan, (dampaknya) ada risiko-risiko kenakalan remaja, agresivitas, dan resolusi konflik yang kurang tepat,” ujar Karina.
Dengan demikian dapat disimpulkan aksi perundungan antar anak bukan sesuatu yang baik bagi anak-anak. Untuk itu, penting sekali untuk mencegah perundungan pada anak, baik di sekolah maupun di lingkungan permainan yang ada di sekitar rumah.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.