JURU Bicara Kementerian Kesehatan dr Mohammad Syahril menegaskan bahwa penyakit hepatitis B bukan cuma diidap perempuan, tapi laki-laki pun bisa terinfeksi.
Secara khusus ada kelompok berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B dan itu bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Itu artinya, tes hepatitis B gak cuma difokuskan ke perempuan.

"Ada kelompok yang rentan terinfeksi hepatitis B. Skrining diprioritaskan ke mereka, seperti pengguna napza suntik (penasun), mantan penasun, orang dengan HIV/AIDS, pasien hemodialisa," jelas dr Syahril di konferensi pers Kemenkes virtual.
"Ada juga kelompok kunci yaitu warga binaan pemasyarakatan (WBP), pekerja seksual, dan LGBT. Selain itu, orang dengan riwayat transfusi darah, riwayat tato, tindik, dan penggunaan alat medis tidak steril, pun tenaga kesehatan," tambahnya.
Dari paparan itu, dr Syahril menegaskan bahwa artinya tes hepatitis B bukan cuma dilakukan oleh perempuan, tapi laki-laki juga. Stigma seperti ini, sambungnya, sudah seharusnya dilawan dan tidak dipercaya lagi.
BACA JUGA:
"Ibu hamil juga perlu dites, tujuannya agar bayi yang dilahirkan sehat tanpa ada risiko hepatitis. Kalau si ibu ternyata positif, dapat dicegah kok ke bayinya," jelas dr Syahril.
BACA JUGA:
Bagaimana cara mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayinya?
Dimulai dari yang paling dasar yaitu pemberian imunisasi hepatitis B (3 dosis) pada bayi untuk mengurangi insiden. Selain itu, diberikan juga HB0 kurang dari 24 jam untuk mengurangi transmisi dari ibu ke bayi.
"Pemberian HBIg pada bayi lahir dari ibu reaktif HBsAg juga bisa mencegah bayi terinfeksi hepatitis B," saran dr Syahril.
"Kalau ibu hamil mengetahui dirinya positif hepatiti B sebelum bayi dilahirkan, maka akan diberikan Tenofovir jika diketahui viral load-nya tinggi," tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.