"Dokter juga melakukan pertimbangan nggak main-main, karena melihat gejala apa bisa dikendalikan dengan obat-obat. Adapun jika dilakukan tindakan bedah dikhawatirkan bisa menimbulkan cedera lebih parah lagi pada jaringan otak, akhirnya para dokter berunding apakah manfaat dengan risikonya sebanding apa enggak," kata dr Stephanie.
"Akhirnya si perempuan pemakai susuk ini memutuskan tidak mau dilakukan operasi dan hanya mau obat untuk mengendalikan kejang-kejangnya. Akhirnya dokter memberi catatan ke pasien ini agar tidak boleh melakukan pemeriksaan MRA , karena MRA itu gunakan gelombang magnet yang bisa menggerakkan susuk atau jarum," ucap dr Stephanie.
Perlu diketahui, MRA merupakan pengecekan kesehatan di medis. Ini teknologi yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk memvisualisasikan pembuluh darah dalam tubuh manusia, seperti arteri dan vena.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.