ALASAN kenapa orang Jawa banyak di Suriname cukup menarik untuk diulas. Salah satu negara yang ada di Amerika Selatan ini diketahui termasuk negara selain Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa.
Bahkan, 15 persen dari jumlah penduduk Suriname adalah orang Jawa. Lantas, apa alasan orang Jawa banyak di Suriname? Berikut penjelasannya sebagaimana dihimpun Okezone dari berbagai sumber;
Sejarah orang Jawa di Suriname
Perlu diketahui, Indonesia dan Suriname adalah jajahan Belanda pada masanya. Tepatnya, pada periode 1890-1939, terdapat sekitar 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname.
Migrasi orang Jawa ke Suriname itu terjadi setelah penghapusan peraturan terkait perbudakan di negara Amerika Selatan tersebut. Alhasil, Kolonial Belanda memboyong orang-orang Jawa ke Suriname sebagai buruh kontrak.
Wanita Jawa di Suriname (Foto: Instagram/@jermaindolladi)
Mayoritas dari mereka berasal dari Jawa Tengah dan daerah-daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Semarang.
Memilih menetap dan tidak kembali
Setelah diboyong ke Suriname, tak banyak yang kembali ke Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mungkin hanya sekitar 20 sampai 25 persen orang Jawa saja yang kembali.
Sebagian besar dari mereka menetap secara permanen di Suriname, dan melanjutkan hidup di sana. Tak heran, orang Jawa di sana saat ini adalah keturunan dari imigran-imigran tersebut.
Tetap gunakan bahasa Jawa
Orang Jawa yang ada di Suriname juga diketahui tetap menggunakan Bahasa Jawa. Bagaimana tidak, dalam kehidupan sehari-hari mereka biasa berbahasa Jawa atau Jawa-Suriname.
Hanya saja, Bahasa Jawa Suriname dan Indonesia ada perbedaan. Perbedaan itu terletak di kosakata dan tata bahasa.
Bahasa Jawa Suriname terbentuk dari Sranantongo (bahasa pergaulan) yang bercampur dengan bahasa Belanda dan Spanyol saat zaman kolonialisme. Mereka pun masih menerapkan budaya Jawa, tradisi, dan mengucapkan bahasanya.
Pasar Jawa di Suriname (Foto: Instagram/@rick.mouwen)
Tetap menjaga komunikasi
Meski telah menetap di Suriname, mereka yang memiliki kerabat atau keluarga di Indonesia tetap menjalin hubungan.
Hal ini lantaran Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname rutin mengadakan perjalanan keluarga (family trip) dari Suriname ke Indonesia agar mereka tetap bisa bertatap muka langsung.
(Rizka Diputra)