Ketika ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri, seorang panitia 'kakarut' atau tergores tangannya hingga berdarah. Pada rombongan panitia, turut hadir pula orang Eropa yang ikut membenahi tempat tersebut.
Saat melihat seorang panitia itu berdarah, orang eropa itu langsung bertanya 'Mengapa berdarah?' kemudian orang yang tergores menjawab 'tangannya kakarut'. Lalu, orang Eropa atau Belanda itu menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih, sehingga sebutannya menjadi 'gagarut'.
Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri tersebut dengan sebutan Ki Garut, sementara telaganya diberi nama Ci Garut.

Dengan ditemukannya Ci Garut, wilayah sekitar akhirnya dikenal dengan nama Garut. Nama Garut sendiri direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan, Adipati Adiwijaya, untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.
Kemudian, tanggal 15 September 1813, akhirnya dilakukan peletakan batu pertama pembangunan hingga sarana dan prasarana ibu kota. Dari mulai tempat tinggal, pendopo, masjid, kantor asisten residen, hingga alun-alun.
(Rizka Diputra)