BELUM Lama ini Italian Fashion School (IFS) kembali mengikuti ajang fashion show yang digelar oleh Indonesia Fashion Week (IFW) Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Adapun tema yang diangkat pada tahun ini adalah Sagara dari Timur.
Sagara berasal dari bahasa sanskerta yang berarti lautan itu, maka perhelatan IFW kali ini ingin menampilkan pesona dan budaya Indonesia timur. Itu sebabnya, IFS diwakili 3 muridnya dalam ajang fashion show IFW akan membawakan busana khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Ketiga murid ini mewakili IFS setelah kami menyeleksi belasan murid. Dan, kami memutuskan 3 orang karena kemampuan, kreativitas dan inovasi mereka dalam mendesain dan menciptakan karya busana mereka yang berasal dari kain tenun khas NTT,” tutur pendiri IFS Diora Agnes dan Paska Ryanti.

Diora mengatakan, rajutan kain tenun NTT itu menggambarkan nilai budaya, sejarah, kepercayaan dan kehidupan masyarakatnya. Kain yang menjadi salah satu tolok ukur kehidupan tanah timur dan memiliki arti sebagai kebahagiaan dan kesempurnaan.
Karena mengambil kain tenun dari NTT, kata Diora, IFS pun menetapkan tema Florescent untuk para muridnya yang ikut fashion show kali ini. Tujuannya, untuk menumbuhkan kembali sejarah kehidupan yang pernah ada dalam masyarakat NTT. Semuanya itu bisa dilihat dalam karya busana ready to wear yang didesain dan diciptakan 3 murid IFS yaitu Khadeja Alattas, Nafisyah dan Ali Eunoia.
Berangkat dari tema Florescent itu, sambung Diora, 3 desainer muda dari IFS itu mewujudkan nilai, budaya hingga tradisi masyarakat NTT dalam koleksi mereka masing-masing. Tidak sekadar indah dari aspek estetik, rancangan busana ketiga desainer itu juga bisa membuat masyarakat menikmati kekayaan budaya NTT.
BACA JUGA:Indonesian Fashion Week, Bella Burhan Padukan Daun Karet dan Bungo Tanjung lewat Batiknya
“Harapan kami masyarakat pengunjung IFW mampu mengapresiasi karya desainer IFS itu. Dan, harapannya para desainer terus mampu berkreativitas dengan kain-kain khas berbagai Nusantara ketika mereka menciptakan karya,” pungkas Diora.
Berikut ini deskripsi koleksi dari para desainer IFS:
Khadeja Alattas
Terinspirasi dari adat pernikahan masyarakat Nagekeo yang ada di Flores. Mas kawin dinilai bagian dari kesakralan dalam sebuah pernikahan. Masyarakat Flores menyebut mas kawin sebagai "Belis". Dan, mas kawin ini identik dengan gading gajah. Pada koleksi ini, Khadeja ingin menunjukkan sisi lain yang indah dari mas kawin khas Nagekeo.
Nafisyah
Terinspirasi dari seorang tokoh pejuang perempuan NTT yaitu Francisca Fanggidaej. Pada koleksi ini, Nafisyah menampilkan “pemberontakan” dari perspektif yang berbeda dan bersumber dari cerita sejarah perjuangan Francisca Fanggidaej dalam melawan penjajahan. Koleksi ini seakan membuat masyarakat penasaran tentang kekuatan energi pada koleksi busana yang ditampilkan.
Ali Eunoia
Terinspirasi dari sebuah film dokumenter Indonesia yang berjudul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Bercerita tentang perjuangan perempuan Tanah Sumba yang mencari keadilan sebagai bagian dari hak asasi manusia. Lewat koleksinya itu, Ali Eunoia ingin bercerita tidak sekadar soal keindahan tapi juga pesan semangat berjuang.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.