WABAH virus Marburg yang melanda beberapa negara di Afrika saat ini tengah jadi perhatian dunia, tak terkecuali Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Mengutip laporan dari Reuters, Per 17 Februari, Kamerun melaporkan dua kasus suspek virus Marburg di Olamze, daerah perbatasan dengan Guinea Ekuatorial. Laporan ini muncul usai Guinea Ekuatorial resmi mengumumkan wabah pertamanya pada hari Senin 13 Februari lalu.
Sebanyak 42 orang yang melakukan kontak dengan 2 kasus suspek virus Marburg di Kamerun tersebut juga telah diidentifikasi oleh otoritas kesehatan setempat.
Dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Guinea Ekuatorial diketahui sejauh ini telah melaporkan 9 angka kematian serta 16 dugaan kasus virus Marburg. Begitu juga Ghana yang sudah melaporkan kasus dari virus Marburg sejak Julij 2022.
Kemunculan wabah virus Marburg yang mematikan di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, menambah kekhawatiran. Apalagi penyakit infeksi virus ini punya tingkat fatalitas hingga 88 persen.
Wabah ini harus diwaspadai oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Epidemiolog dari Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman menyebut jika virus Marburg bisa berpeluang, menjelma jadi pandemi baru yang melanda dunia global di masa mendatang.
“Virus Marburg, salah satu virus dalam daftar virus berpotensi pandemi. Penyakit virus Marburg, penyakit yang sangat mematikan yang menyebabkan demam berdarah, dengan rasio kematian hingga lebih dari 80 persen,” kata Dicky, dikutip dari Antara.

(Foto: Shutterstock)
Lantas apakah sejauh ini sudah ada vaksin untuk virus Marburg? Sayangnya, seperti diungkap Kepala Seksi Surveilans Epidemiolog dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Ngabila Salama, diketahui sejauh ini belum ada vaksin virus Marburg.
"Belum ada vaksin untuk mencegah virus Marburg,” ujar dr. Ngabila kala diwawancara MNC Portal, Rabu (22/2/2023)