SELAIN Tionghoa, warga Bangladesh juga termasuk paling mudah dijumpai keberadaannya, terutama di Malaysia.
Salah satu alasan mereka menyebar ke berbagai negara adalah mencari peruntungan. Bahkan, populasi mereka di Malaysia bisa mencapai ratusan ribu orang.
Jumlah tersebut tidak terlalu mengejutkan mengingat mereka mulai menapaki Negeri Jiran sejak abad ke-15 dan ke-16, tepatnya era Kesultanan Melaka. Kala itu banyak dari pedagang Teluk Benggala yang terlibat dalam aktivitas komersial kesultanan.
Namun, warga Bangladesh yang datang ke Malaysia secara resmi untuk mencari pekerjaan awalnya berjumlah 500 orang sekitar tahun 1986.

Mereka umumnya bekerja sebagai petani di ladang. Melihat potensi tersebut, kedua negara pun membuat perjanjian peringkat kerajaan mengenai ekspor tenaga kerja tahun 1992.
Tak hanya Bangladesh, negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, Filipina, dan Thailand juga telah memiliki perjanjian serupa dengan Malaysia.
Tahun 1999, sekitar 385,495 warga Bangladesh telah diberangkatkan ke Malaysia untuk bekerja. Padahal saat itu 229 ribu warga Bangladesh telah menetap di Malaysia. Jumlah tersebut membuat angka tenaga kerja dari Bangladesh di luar negeri mencapai 12 persen.
Karena jumlahnya yang besar, tidak jarang tenaga kerja Bangladesh direkrut secara ilegal. Hal itu tentunya menjadi pelanggaran terhadap para tenaga kerja.