BICARA soal Maluku tak bisa lepas dari keindahan pantainya. Namun, di bumi kaya rempah itu juga terdapat destinasi wisata bersejarah yang menjadi saksi bisu perlawanan rakyat Maluku melawan tentara kolonial Belanda di masa lalu.
Dia adalah Benteng Amsterdam yang terletak di pinggir Pantai Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, masih berdiri kokoh hingga kini.
Benteng peninggalan Belanda itu berlokasi persis di perbatasan Negeri Hila dan Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, atau tepatnya sekitar 42 kilometer perjalanan darat dari Kota Ambon, Maluku.
Pemandangan pantai dengan laut hijau tosca yang tenang serta perbukitan Pulau Seram di depannya menjadi salah satu suguhan keindahan alam Maluku yang memesona sebagai bonus saat berkunjung ke Benteng Amsterdam.
Bangunan tinggi berwarna putih yang sudah berusia ratusan tahun itu merupakan benteng kedua yang dibangun Belanda, saksi penguasaan kongsi dagang Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang berkembang dan memonopoli perdagangan rempah di kawasan Asia ketika itu.
(Foto: Instagram/@jhaii63)
Benteng Amsterdam awalnya dibangun Portugis pada 1512 yang dipimpin oleh Fransisco Serrao sebagai loji atau gudang tempat menyimpan rempah pala dan cengkih. Kemudian pada 1605 Belanda mengambilalih dan mengubahnya menjadi benteng.
Konstruksi bangunan benteng berbentuk bangunan segi empat terdiri atas tiga lantai. Lantai dasar dibuat dari batu merah dan lantai dua serta tiga dari kayu dengan akses tangga kayu untuk ke atas.
Pada setiap sisi bangunan terdapat jendela dan di lantai satu tepat setelah pintu masuk terdapat prasasti dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bertuliskan Benteng Amsterdam mulai dibangun oleh Gerrard Demmer pada 1642.
Di ujung bangunan terdapat sebuah menara pengintai dan lantai tiga digunakan sebagai pos pemantau. Sementara atap benteng berbentuk limas dari seng dan di sekeliling bangunan terdapat pagar dari beton.
Karena bangunan sempat rusak pada 1991, pemerintah ketika itu melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pemugaran mengacu kepada gambar dalam buku Beschreiving van Ambonian karya Francois Valantyn.