Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

1 Anak di Jakarta Meninggal karena Gagal Ginjal Akut, BPOM dan Kemenkes Gelar Investigasi

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 06 Februari 2023 |11:05 WIB
1 Anak di Jakarta Meninggal karena Gagal Ginjal Akut, BPOM dan Kemenkes Gelar Investigasi
Ilustrasi obat sirop, (Foto: Freepik)
A
A
A

KEMENTERIAN Kesehatan RI mengonfirmasi temuan teranyar, dua kasus baru gagal ginjal akut pada anak (GGAPA) di DKI Jakarta.

Dua kasus baru yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan adalah temuan baru sejak Desember 2022 tersebut, dikatakan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril, adalah 1 kasus konfirmasi dan 1 kasus suspek.

"Penambahan kasus tercatat pada tahun 2023, satu kasus konfirmasi gagal ginjal akut pada anak (GGAPA) dan satu kasus suspek,” kata dr. Syahril dalam keterangan resminya, Senin (6/2/2023).

Pada pasien yang meninggal, sang anak diketahui sempat minum obat sirop penurun demam dengan merek Praxion. Usai konsumsi obat, kondisi kesehatannya terus menurun hingga tidak bisa buang air kecil.

Tak kunjung membaik, sang anak yang baru berusia 1 tahun itu diketahui langsung dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta, untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Selanjutnya, per 31 Januari 2023 pasien dirujuk ke Rumah Sakit Adhyaksa. Terlihat mengalami gejala khas GGAPA, pasien sebetulnya sudah direncanakan untuk dirujuk ke RSCM, tetapi keluarga menolak dan membawa pulang sang anak.

Keesokan harinya, kedua orangtua pasien membawa anaknya ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD. Pada hari yang sama, pasien diungkap dr. Syahril dirujuk untuk mendapatkan perawatan di RSCM.

Pada 1 Februari, pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole. Namun 3 jam setelah di RSCM, pada pukul 23.00 WIB, pasien dinyatakan meninggal dunia," tutur dr. Syahril masih dari keterangan resminya.

Lantas apakah konsumsi obat penurun demam, dengan merek Praxion yang sempat dikonsumsi pasien saat sakit tersebut bisa dikatakan jadi dalang sang anak menderita gagal ginjal akut?

Terkait hal ini, dr. Syahril menegaskan bahwa sampai saaat ini pihak Kemenkes masih melakukan tindakan antisipatif dalam menentukan penyebab kasus GGAPA baru yang dilaporkan, dengan bekerjasama bersama banyak pihak terkait lewat penelusuran epidemiologi.

"Kemenkes bekerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari IDAI, BPOM, Ahli Epidemiologi, Labkesda DKI, Farmakolog, para Guru besar dan Puslabfor Polri untuk melakukan penelusuran epidemiologi,” terang dr. Syahril

 BACA JUGA:Lakukan 5 Hal Ini Agar Ginjal Tetap Sehat!

BACA JUGA:Kasus Baru 1 Anak di Jakarta Meninggal karena Gagal Ginjal Akut, Ini Kronologinya

“Ini dalam memastikan penyebab pasti dan faktor risiko yang menyebabkan gangguan ginjal akut. Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sampel obat dan darah pasien," sambungnya lagi.

Langkah selanjutnya, Kemenkes diketahui mengeluarkan surat kewaspadaan kepada seluruh Dinas Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan Organisasi Profesi Kesehatan terkait dengan kewaspadaan tanda klinis GGAPA dan penggunaan obat sirop, walau di sisi lain penyebab kasus gagal ginjal akut pada anak yang baru ini masih butuh investigasi lebih lanjut.

Dalam rangka kehati-hatian, di tengah investigasi kasus yang masih berlangsung, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI disebut dr. Syahril sudah mengeluarkan perintah penghentian sementara untuk produksi dan distribusi obat yang dikonsumsi pasien hingga rangkaian investigasi selesai digelar.

"Terkait perintah penghentian sementara dari BPOM, industri farmasi pemegang izin edar obat itu telah melakukan voluntary recall (penarikan obat secara sukarela)," jelas dr Syahril.

Sementara itu, BPOM sendiri disebutkan sudah melakukan investigasi atas sampel produk obat dan bahan baku baik dari sisa obat pasien, sampel dari peredaran dan tempat produksi, dan telah diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN).

"BPOM juga sudah melakukan pemeriksaan ke sarana produksi terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)," tutup dr Syahril singkat.

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement