Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini yang Terjadi ketika Generasi Muda Lebih Sedikit daripada Lansia

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 15 Desember 2022 |08:00 WIB
Ini yang Terjadi ketika Generasi Muda Lebih Sedikit daripada Lansia
dampak negatif lebih banyak lansia daripada anak muda, (Foto: Freepik)
A
A
A

ISU resesi seks dengan angka kelahiran rendah, karena generasi muda orang-orang yang berusia produktif tak mau mempunyai anak tengah jadi salah satu bahasan isu sosial yang ramai dibicarakan. 

Generasi muda di negara-negara maju, seperti Korea Selatan dan Jepang banyak yang memilih untuk hidup sendiri daripada berkeluarga, sedangkan yang sudah menikah memilih untuk tidak memiliki anak. Faktor finansial ekonomi, merujuk pada tingginya biaya hidup saat ini jadi salah satu alasan terkuat kenapa pilihan untuk tak punya anak semakin populer.

Imbasnya, angka kelahiran baru pun semakin rendah setiap tahunnya. Maka secara langsung, artinya tidak ada regenerasi penduduk. Disebut Ahli Keamanan dan Ketahanan Kesehatan, dr. Dicky Budiman, fenomena sosial ini berdampak langsung pada keberlangsungan regenerasi penduduk suatu negara.

Generasi produktif tak mau punya anak artinya angka kelahiran rendah, dan pada akhirnya berkurangnya generasi muda di suatu negara akan sangat memengaruhi kehidupan negara itu sendiri.

"Kami sebutnya Aging Population, artinya populasi masyarakat yang tua semakin banyak, sedangkan generasi muda tidak ada. Ini kajian di health global security, bukan hanya di level global tapi juga nasional," uar Dicky, saat dihubungi MNC Portal baru-baru ini.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement