BELAKANGAN ini muncul fenomena di mana orang-orang secara sengaja memamerkan harta kekayaan yang mereka miliki, mulai dari rumah mewah, villa, jet pribadi, sport car, moge atau motor gede, bahkan hingga jumlah saldo rekening pribadi.
Lantaran nilai harta kekayaan mereka yang terbilang sangat fantastis itulah, maka predikat crazy rich disematkan.

Bak gayung bersambut, fenomena memamerkan harta atau juga disebut dengan flexing ternyata mendapat tanggapan yang cukup meriah dari masyarakat Indonesia. Sebab tidak dapat dipungkiri, bahwa harta memang menjadi topik yang selalu menarik untuk dibicarakan.
Sehingga crazy rich yang awalnya bahkan tidak diketahui namanya, latah muncul ke publik untuk sekedar mengikuti tren, ataupun untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.
Sayangnya, disadari atau tidak, dibalik euforia fenomena crazy rich ini, tersimpan dampak negatif yang cukup meresahkan. Tidak sedikit yang kemudian terhipnotis ingin menjadi kaya secara cepat, tanpa peduli bagaimana prosesnya.
Flexing juga dinilai sebagai tindakan minim empati, terlebih ketika banyak masyarakat yang sedang jatuh bangun ekonominya saat pandemi. Sungguh sebuah ironi ketika orang yang melakukan tindakan jauh dari norma dan etika, justru dijadikan teladan.
Kini, semakin banyak pihak yang mulai tersadar dan merasakan keresahan yang sama. Mereka mulai menyuarakannya melalui beragam cara, termasuk para youtuber melalui kanal youtube-nya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi kaya raya, tetapi kaya tidak melulu tentang membeli, tetapi juga memberi.
BACA JUGA:Sumber Kekayaan Crazy Rich Surabaya Melvin Tenggara, dari Bisnis Properti hingga Kuliner
Dunia tidak akan menjadi lebih baik jika crazy rich hanya pamer sana sini, sementara rakyat jelata hanya bisa gigit jari. Memang sudah seharusnya fenomena ini diakhiri.
Menanggapi fenomena ini, Rudolf Tjandra, CEO dan President Director PT Inti Sasa mengatakan, pihaknya malah lebih suka membuat gerakan yang masif dan berkelanjutan, gerakan Crazy Kind untuk mengajak teman-teman semua untuk berbuat baik.
"Berbuat baik tidak hanya saat ini, tapi juga diharapkan nantinya akan membentuk sebuah kebiasaan. Becoming crazy kind is the best way to change the world to be a better place," ujar Rudolf.
Kebaikan itu memang menular, tetapi tidak perlu menunggu waktu untuk ditularkan. Jadi mari bersama-sama, mulai saat ini, mulai dari diri sendiri, kita berlomba – lomba berbuat kebaikan salah satunya dengan memberi kepada masyarakat yang membutuhkan.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.