Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspadai Rabies Bisa Bikin Manusia Alami Halusinasi dan Insomnia

Asthesia Dhea Cantika , Jurnalis-Sabtu, 08 Oktober 2022 |07:03 WIB
Waspadai Rabies Bisa Bikin Manusia Alami Halusinasi dan Insomnia
Ilustrasi (Foto:Go PetPlan)
A
A
A

RABIES menjadi salah satu penyakit pada hewan yang dapat menular kepada manusia. Penyakit satu ini sangat berbahaya sebab menyerang pada otak dan menyebabkan peradangan.

Penularan rabies sendiri melalui cakaran atau gigitan mamalia. Lantas, apa pengertian rabies? Bagaimana gejala, penyebab, faktor risiko, dan pencegahannya? Untuk memahaminya, simak rangkuman okezone, berikut ini.

Rabies

Melansir dari Healthline, rabies adalah penyakit yang menyerang hewan dan manusia disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf pusat (SSP), khususnya otak. Hewan seperti; anjing domestik, kucing, kelinci, dan hewan liar seperti sigung, rakun, dan kelelawar dapat menularkan virus ke manusia melalui gigitan dan cakaran.

Penyakit yang menyakitkan ini dapat mengancam jiwa. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), terdapat sekitar 59.000 orang di seluruh dunia meninggal karena rabies setiap tahun. Dimana 99 persen dari mereka digigit anjing gila.

Kendati demikian, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin dan bila terinfeksi segera menghubungi dokter.

Masa inkubasi disebut sebagai periode antara gigitan dan timbulnya gejala. Umumnya diperlukan waktu 3 minggu hingga 3 bulan bagi seseorang untuk mengembangkan gejala rabies setelah tertular infeksi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masa inkubasi juga dapat berkisar dari 1 minggu hingga 1 tahun.

Gejala awal rabies dimulai dengan gejala seperti flu, termasuk demam, kelemahan otot, dan kesemutan. Pasien mungkin juga merasa terbakar di tempat gigitan.

Saat virus terus menyerang SSP, ada dua jenis penyakit yang dapat berkembang: rabies ganas dan rabies paralitik.

Seorang yang terinfeksi rabies  ganas akan menjadi hiperaktif dan bersemangat dan mungkin menunjukkan perilaku yang tidak menentu. Lalu mengalami kecemasan, halusinasi, air liur, takut air, kebingungan dan masalah menelan.

Sedangkan, rabies paralitik membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang. Orang yang terinfeksi perlahan-lahan menjadi lumpuh, akhirnya akan mengalami koma, dan mati. Menurut WHO, terdapat 20 persen kasus rabies pada manusia bersifat lumpuh.

Rabies disebabkan oleh virus virus Lyssavirus dari golongan Rhabdoviridae yang umumnya ditularkan dari hewan melalui gigitan, cakaran, atau air liur. Tak hanya itu, jilatan hewan yang terinfeksi ke mulut, mata, atau luka terbuka, juga bisa menjadi cara penularan virus rabies dari hewan ke manusia.

Pada kasus tertentu, penularan virus rabies juga dapat terjadi dari manusia ke manusia melalui transplantasi organ.

Melansir dari Healthline, bagi mayoritas orang, risiko tertular rabies relatif rendah. Namun, ada situasi tertentu yang dapat menempatkan seseorang pada risiko yang lebih tinggi.

Melansir dari Medical News Today, rabies adalah penyakit serius yang dapat dicegah oleh individu dan pemerintah dengan mengambil langkah-langkah berikut ini:

-Vaksinasi rabies secara rutin untuk hewan peliharaan

-Larangan atau pembatasan impor hewan dari negara tertentu

-Vaksinasi manusia secara luas di beberapa daerah terutama daerah yang tinggi faktor risiko

-Sosialisasi informasi dan kesadaran pendidikan terkait penyakit ini

-Meningkatkan akses ke perawatan medis untuk orang-orang yang menerima gigitan

Demikian pemahaman terkait rabies yang perlu dipahami. Sebisa mungkin menjaga kesehatan hewan ternak dan tak sembarangan memegang hewan liar.

(RIN)

(Rani Hardjanti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement