KESEHATAN area panggul wanita selama ini bisa dibilang kurang familiar untuk dibahas. Padahal, sama dengan area tubuh lainnya, menjaga kesehtatan area panggul bagi perempuan itu sangat penting.
Terlebih, area panggul adalah bagian tubuh wanita yang bekerja keras sangat vital dalam masa kehamilan karena berhubungan dengan janin dalam kandungan, pertumbuhan kehamilan dan melahirkan dan penuaan.
Seperti disampaikan dr. Nadir Chan, Sp.O.G, Subsp.Urogin RE, dokter obgin sub spesialis uroginekologi, dari Jakarta Urogynecology Center (Juncenter), RS YPK Mandiri, Jakarta, ketika area panggul tidak dipantau dengan baik, bisa berisiko pada kerusakan atau kelainan hingga kelemahan organ dasar panggul.
"Jika dasar panggul, rusak atau lemah, risiko yang mungkin terjadi bisa sangat beragam,” kata dr. Nadir.
“Risiko yang mungkin terjadi itu, mulai dari Prolaps Organ Panggul (POP), inkontinensia urin, inkontinensia fekal, hingga masalah disfungsi seksual," tambahnya, sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (8/10/2022).
Dokter Nadir menjelaskan, area dasar panggul baik tulang dan otot-ototnya yang mirip ikatan seperti pada ayunan yang merentang mulai dari tulang pubik di depan, hingga dasar tulang belakang, punya tugas berat dan penting. Sebab dasar panggul ini berfungsi untuk menjaga posisi kandung kemih, rahim dan sistem pencernaan.
Ketika area dasar panggul tidak dijaga, masalah inkontinensia urin disebut jadi masalah kesehatan yang cukup sering terjadi. Inkontinensia urin sendiri merupakan kondisi ketika seseorang mengeluarkan urin tanpa kendali saat beraktivitas ringan.
Contohnya batuk, tertawa, bersin, berlari atau mengangkat beban berat. Kegiatan semacam ini, menambah beban dasar panggul penderita akan membuat kebocoran pada kandung kemih tanpa bisa tertahan lagi.
“Termasuk pertambahan berat badan penderita atau akibat kehamilan yang kondisinya tak terpantau," lanjut dr. Nadir lagi.
Jika sudah menderita Inkontinensia urin, sebagai pengobatan, dr. Nadir mengungkap ada dua cara yakni pengobatan non operasi dan operasi. Pertama uhntuk pengobatan dengan cara non operasi bisa dimulai dengan latihan kegel, penggunaan kursi elektromagnetik dan femilift.
Namun ketika terapi sudah tak lagi berhasil, tindakan pembedahan alias operasi akhirnya jadi pilihan terakhir.
"Ketika terapi tersebut sudah tidak mungkin dilakukan, terapi bisa melalui tindakan operasi. Contohnya yang sifatnya minimally invasive surgery atau bedah terbuka, keuntungan terapi minimally invasive ini hanya meninggalkan luka sayatan ringan," pungkasnya.
BACA JUGA:Peneliti Sebut Lakukan Gerakan Beri Jari Tengah Bisa Kurangi Rasa Sakit, Kok Bisa?
BACA JUGA:Waspadai Obesitas Sebabkan Sakit Jantung, Diabetes Hingga Kematian
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.