Kondisi tersebut akan menyulitkan penderita autisme dalam kehidupan sehari-hari. Seperti sulit untuk mengekspresikan diri, kesulitan dalam belajar dan memproses informasi, gangguan dalam keahlian suatu bidang, dan lain-lain. Itulah sebabnya mereka biasanya akan bergantung pada orang lain
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme atau ASD bisa menyasar pada siapa saja dan umumnya 4 kali lebih besar terjadi pada anak laki-laki.
CDC dalam lamannya menuliskan jika gejala autisme sudah bisa dilihat sejak anak-anak berusia 12 bulan hingga lebih dari 24 bulan. Gejalanya bisa berupa adanya masalah dengan cara anak berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, perilaku serta minatnya pun terbatas atau hanya mengulang-ulang, gejala lain yang bisa berupa reaksi emosional, dan lain-lain
Autisme atau ASD tidak disebabkan karena salah pola asuh atau adanya trauma pada masa kecil. Para ahli mempercayai jika penyebab gangguan autisme pada seseorang bisa terjadi karena adanya faktor genetik dan faktor lingkungan.
Meski belum jelas penyabab dari autisme, namun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan resiko terjadinya gangguan. Berikut faktor resikonya:
• Jenis kelamin laki-laki yang 4 kali lebih memungkinkan terkena gangguan autis.
• Riwayat kesehatan keluarga. Jika ada satu anggota keluarga yang mengidap austime, maka meningkatkan faktor resiko keturunan lain dari keluarga tersebut untuk mengidap gangguan yang sama.